BI Bantah Telah Jual 11 Ton Emas Hingga 31 Agustus 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) membantah kabar telah menjual 11 ton emas cadangannya hingga 31 Agustus 2025. Kabar tersebut mencuat setelah World Gold Council (WGC) mengeluarkan laporan terbaru mengenai aksi sejumlah negara dalam perdagangan emas.
“Dapat kami sampaikan bahwa BI tidak melakukan penjualan emas sebagaimana disebutkan,” kata Kepala Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso, melalui keterangan resmi kepada investortrust.id, Senin (6/10/2025).
Denny meminta media dan masyarakat untuk mengikuti informasi mengenai cadangan devisa melalui laman resmi BI. Tetapi, Denny tak menjelaskan apakah data dari WGC tersebut benar atau tidak.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menduga upaya BI menjual emas berhubungan dengan intervensi untuk menjaga nilai tukar rupiah stabil. Sebab, langkah intervensi tersebut membutuhkan dana yang besar.
“Sehingga wajar saat logam mulia naik tinggi, cara satu-satunya mendapatkan dolar secara tunai yaitu menjual emas batangan,” ujar Ibrahim.
Laman resmi BI menunjukkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2025 mencapai US$ 150,7 miliar. Angka ini lebih rendah dari posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2025 yang sebesar US$ 152 miliar.
Baca Juga
Hingga Agustus 2025, Bank Indonesia Dikabarkan Jual 11 Ton Emas
Turunnya devisa Indonesia pada akhir Agustus 2025 terjadi karena sejumlah pembayaran yang harus dilakukan pemerintah. Pemerintah perlu membayar utang luar negeri dan stabilisasi nilai tukar rupiah. Seperti diketahui, rata-rata nilai tukar rupiah pada Agustus sempat menyentuh angka Rp 16.356 per US$.
“Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dilakukan sebagai respons BI dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi,” tulis BI.
Ketidakpastian yang tinggi juga masih dihadapi BI pada September 2025. Berdasarkan data investing, menjelang akhir September, rupiah mulai menyentuh angka Rp 16.740 per US$. Dalam transaksi harian atau pasar spot, rupiah sempat menyentuh Rp 16.800 per US$.
Posisi rupiah melemah dalam ini terjadi saat bank himbara, yaitu BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BTN kompak menaikkan suku bunga deposito valuta asing (valas) menjadi 4%. Belakangan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah kebijakan tersebut berasal dari permintaan pemerintah.
“Saya nggak pernah nyuruh Danantara atau bank untuk menaikkan bunga deposito seperti itu,” ujar Purbaya saat taklimat media di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Jumat (26/9/2025).
Purbaya tak menampik ada diskusi mengenai insentif ke pemegang valas ketika di Istana Negara, Jakarta. Ini dilakukan agar pemilik dolar Amerika Serikat (AS) di Singapura memindahkan kepemilikan dolar AS-nya ke Tanah Air.
“Cuman itu masih belum selesai, masih ada risiko yang meski dihitung,” ucap dia.
Selain itu, Purbaya kala itu berkelakar akan membawa rupiah terus menguat. Bahkan di lebih kuat dari level fundamentalnya. Dia hanya memberikan sinyal sembari berkelakar.
“Kalau Anda pemain forward looking, kira-kira tahu sinyal apa yang mesti diambil. Ini sinyal kuat sekali dari saya,” kata dia.

