Langsung Longsor, Rupiah Dibuka Hampir Sentuh Rp 16.200/USD
JAKARTA, investortrust.id – Setelah libur panjang Lebaran, pada Selasa (16/4/2024) pagi ini, kurs rupiah di pasar spot valas dibuka langsung longsor terhadap dolar Amerika Serikat. Pada pukul 09.31 WIB, rupiah melemah ke level Rp 16.199/USD atau terdepresiasi 2,27% berdasarkan data Yahoo Finance.
Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, sentimen eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan rilis data ekonomi Amerika Serikat yang solid telah mendorong penguatan dollar index, yakni indeks yang mengukur nilai tukar greenback terhadap mata uang utama seperti euro, yen, pound sterling Inggris, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss. Dalam sepekan lalu saja, dolar index menguat hingga 1,7% ke level 106,04, yang merupakan level tertinggi sejak November 2023.
"Penguatan dolar AS terhadap mata uang negara maju tersebut, selanjutnya mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang Asia. Karena minggu lalu pasar keuangan domestik libur, maka nilai tukar yang mengalami pergerakan hanya NDF (Non-Deliverable Forward) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Meski NDF nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tersebut tidak mencerminkan kurs rupiah terhadap dolar pada pasar spot, namun berpotensi pada saat pembukaan kembali pasar keuangan domestik Selasa (16/4/2024), posisi rupiah mengikuti pergerakan NDF," kata Josua kepada Investortrust.id, Senin (15/4/2024).
Dari rilis data ekonomi AS pada tanggal 5 April lalu, tingkat pengangguran AS bulan Maret 2024 tercatat turun menjadi 3,8% dari bulan sebelumnya 3,9%. Selain itu Non-Farm Payroll pada bulan Maret 2024 tercatat 303.000 dari bulan sebelumnya 270.000. Sedangkan pada 10 April lalu, rilis inflasi AS Maret 2024 tercatat 3,5% yoy dari bulan sebelumnya 3,2%, dan lebih tinggi dari perkiraan 3,4%.
Harga Minyak akan Naik
Sejumlah sentimen global dan perkembangan harga komoditas juga tercatat menjadi perhatian pelaku pasar. Analis Phintraco Sekuritas Valdy K memaparkan ada kekhawatiran penundaan pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed di tahun 2024.
“CME FedWatch Tools mencatat peluang pemangkasan suku bunga acuan di FOMC Juni 2024 tinggal tersisa 26,9%, dari pekan sebelumnya di atas 60%. Kondisi ini seiring dengan kecenderungan kenaikan harga komoditas energi, terutama minyak bumi dalam sepekan terakhir,” katanya dalam laporan yang dirilis Selasa (16/4/2024).
Baca Juga
Kenaikan harga minyak mentah itu dipicu isu bahwa Israel mengantisipasi potensi direct attack dari Iran. “Harga minyak Brent yang masih bertahan di atas US$ 90/barel, dengan adanya eskalasi konflik geopolitik, berpotensi terdorong naik hingga ke atas level psikologi US$ 100/barel dalam waktu dekat,” paparnya.
Baca Juga
Fundamental Ekonomi RI Cukup Kuat Redam Dampak Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Pelemahan Rupiah Diprediksi Sementara
Josua menjelaskan lebih lanjut, saat ini, fundamental ekonomi Indonesia terbilang solid dan cukup kuat. Hal tersebut terindikasi dari pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi yang terkendali, neraca perdagangan yang surplus, dan cadangan devisa yang masih dalam level baik.
"Mengingat yang terjadi saat ini adalah penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia, artinya bukan rupiah satu-satunya mata uang yang melemah terhadap dolar. Oleh sebab itu, pelemahan rupiah saat ini diperkirakan hanya akan sementara," paparnya.
Ia memprediksi ke depan pergerakan rupiah masih didominasi sentimen dari Fed Funds Rate yang masih dipertahankan oleh bank sentral AS, The Fed. Para pelaku pasar memprakirakan Fed Funds Rate akan dipangkas setidaknya pada semester II-2024.
"Oleh sebab itu, di tengah peluang penurunan suku bunga AS pada semester II tahun 2024, dolar AS diperkirakan akan cenderung melemah dari posisi saat ini, yang selanjutnya akan berimplikasi pada penguatan mata uang dunia termasuk rupiah terhadap dolar AS. Ini karena pada umumnya penurunan suku bunga AS akan mendorong masuknya aliran modal asing di pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia," kata Josua.

