Hari Statistik Nasional 2025, BPS Diharapkan Terus Jaga Integritas dan Kredibilitas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) diharapkan dapat menjaga menjaga integritas dan kredibilitas data yang dihasilkan. Pesan itu menggaung saat perayaan Hari Statistik Nasional 2025.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy berharap BPS di usianya yang ke-65 tahun dapat semakin kuat. Ini karena BPS menjadi pondasi penting pembangunan nasional Indonesia.
“Pembangunan nasional yang baik hanya bisa terjadi kalau datanya baik,” ujar Rachmat, Jumat (27/9/2025).
Rachmat menjelaskan proses pengambilan data yang baik diperlukan agar data yang dihasilkan mumpuni. Rachmat yakin BPS memiliki orang-orang yang memiliki metodologi, kredibilitas, dan integritas yang baik.
“Sehingga angka yang dihasilkan itu adalah angka yang tidak bisa diperdebatkan lagi, kecuali berdebat berdasarkan metodologi yang ada,” ujar dia.
Menurut Rachmat, BPS harus terbebas dari tekanan siapapun. Sebab, statistik menjadi mata para pengambil kebijakan dan telinga pengambil strategi pembangunan.
“Perencanaan yang baik tapi tidak cukup. Perencanaan yang baik harus dilaksanakan dengan baik. Dilaksanakan dengan baik tidak cukup, harus dirasakan dengan baik oleh para penerima manfaatnya,” kata dia.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengklaim sebagai salah satu kementerian yang kerap menggunakan data BPS. Menurutnya, BPS telah menjadi satu-satunya sumber data untuk menentukan kebijakan.
Baca Juga
LPS Kembali Pangkas Bunga Penjaminan 25 bps, Bank Umum Jadi 3,5% dan BPR 6%
Menurut Ara, sapaan menteri PKP, BPS dapat terbuka dengan diskusi. Meski demikian, BPS tetap memiliki prinsip yang kuat.
“Tidak bisa diintervensi oleh kepentingan apapun,” ujar Ara.
Ara yakin, metodologi yang digunakan BPS dapat dipertanggungjawabkan. Ini karena para pegawai BPS memiliki integritas dan profesionalisme.
“Harapan saya, BPS tambah kredibel, kuat, SDM-nya tambah, kewenangannya tambah besar, dan anggarannya tambah besar,” kata dia.
Harapan Ara ini muncul karena BPS bertugas menilai semua kerja kementerian/lembaga (K/L). Dengan pengukuran kuantitatif, data yang dihasilkan dapat menjadi objek yang dipakai oleh siapapun, termasuk pelaku pasar, DPR, peneliti dan akademisi, LSM, hingga masyarakat. Termasuk untuk memberikan kritik, saran, atau apresiasi.
“Kalau tidak bagus kita juga sebagai pejabat negara tidak boleh anti kritik, tapi dengan data-data yang terukur,” ucap dia.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan upaya untuk menghasilkan data yang bermutu, salah satunya dengan memperkuat para statistisi. Para pengepul data tersebut kini memiliki wajah baru bernama Ikatan Statistisi Indonesia (ISI).
Amalia meminta dukungan para statistisi agar bisa menghasilkan data statistik yang diperlukan oleh khalayak dan negara.
“Mohon dukungan untuk kami, agar terus bisa menghasilkan statistik yang berkualitas, statistik yang bermakna, dan statistik yang berdampak,” ujar Amalia.

