Dunia Persiapkan Mata Uang Internasional Baru
Oleh Hasan Zein Mahmud,
direktur utama Bursa Efek Jakarta 1991-1996
INVESTORTRUST.ID - Sahabat investor. Harga emas terus melambung. Mencatat rekor demi rekor.
Pada Rabu kemarin, di pasar spot, harga emas ditutup menembus USD 2.146 per troy ounce. Kontrak penyerahan April 2024 di Comex mencapai level USD 2.154. Di dalam negeri, harga ANTAM LM (per gram, bid - offer) menyentuh Rp 1.186.000 - Rp 1.188.965.
Baca Juga
Harga Emas Batangan Antam Terus Cetak Rekor, Naik Rp 13 Ribu per Gram
Bank-bank sentral dunia nampaknya masih terus berpacu melakukan pembelian emas. Pada 2022, permintaan emas global melambung 18%.
Pada 2023, data World Gold Council (WGC) mencatat permintaan emas mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 4.899 ton. Bank sentral secara keseluruhan mencatatkan pembelian bersih tahunan sebesar 1.037 ton.
Peluang Lanjutkan Penguatan
Nampaknya, emas yang merupakan safe haven ini masih terbuka peluang melanjutkan kenaikan harganya. Pertama, karena antisipasi terhadap turunnya tingkat bunga The Fed, Bank Sentral Amerika Serikat, yang akan menarik turun imbal hasil US Treasury.
Kedua, dalam jangka lebih panjang, dunia sedang mempersiapkan hadirnya mata uang baru, sebagai alat pembayaran internasional dan denominasi cadangan devisa. Mata uang ini untuk menggantikan USD.
Baca Juga
BI Umumkan Cadev, Kurs Rupiah Kembali Menguat ke Rp 15.654/USD
Kepercayaan yang menurun tajam terhadap USD, dan belum hadirnya mata uang baru sebagai alat penyelesaian transaksi internasional, telah menempatkan emas sebagai mata uang pengganti. Tentu, ini bisa dimengerti, karena emas diterima di seantero jagat.
Saya pun suka kalimat Victoria Erickson yang menyebut, "Honey and wildfire are both the colour gold”. (pd)

