Investasi Sektor Sekunder Digandrungi Asing, Ternyata Begini Implikasinya!
JAKARTA, investortrust.id – Penanaman Modal Asing (PMA) 2019-2023 menempatkan sektor sekunder sebagai tujuan investasi utama di Indonesia. Peningkatan nilai investasi mulai terlihat sejak 2020.
“Kalau kita lihat PMA 2019-2023 sektor sekunder ini adalah sektor yang paling banyak investasinya,” kata Associate researcher Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Asmiati Malik, saat Diskusi Publik Ekonom Perempuan Indef, yang digelar daring, Kamis (28/12/2023).
Industri sekunder mengalami lonjakan investasi. Pada 2019 nilai investasi yang ditanam di industri ini baru mencapai US$ 9,55 juta. Angka tersebut kemudian naik signifikan pada 2020 menjadi US$ 13,20 juta.
Pada 2021 dan 2022, investasi di sektor sekunder kembali meningkat hingga masing-masing sebesar US$ 15,80 juta dan US$ 24,68 juta.
“Kalau kita tarik lagi datanya dari sektor sekunder ini misalnya industri kertas dan percetakan, industri kimia dan farmasi, serta industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya,” ujar dia.
Menurut Asmiati, investasi yang seharusnya masuk paling besar adalah sektor primer yang memenuhi kebutuhan dasar. Investasi yang hanya masuk di sektor sekunder dan tersier, kata dia, akan berdampak terhadap kenaikan biaya hidup.
“Dampak langsung ke kehidupan masyarakat itu akan jauh lebih besar. Dan inilah yang berimplikasi ke masyarakat menengah ke bawah,” kata dia.
Asmiati mengatakan investasi yang mengarah ke sektor sekunder dan tersier berdampak ke masyarakat menengah ke atas. Dia mengatakan, investasi di sektor primer pun masih didorong oleh sektor pertambangan.
Sektor pertambangan juga masih menjadi favorit investor dalam negeri untuk berinvestasi. Investasi di pertambangan tercatat mencapai US$ 62,52 juta pada 2022.
Investasi kedua tertinggi setelahnya yaitu tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan, yang mencapai US$ 38,88 juta. Secara total investasi dalam negeri pada sektor primer mencapai US$ 111,21 juta.
“Kehutanan dan perikanan masih sangat rendah. Padahal perikanan itu adalah sektor utama yang menyediakan protein bagi kita,” kata dia.
Ke depannya, Asmiati menyarankan pemerintah untuk mengeksplorasi sektor potensial seperti pariwisata, perikanan, dan pertanian. “Investor masih melihat indonesia sebagai pasar yang potensial, namun butuh pendekatan material berbahasa Inggris dan kemudahan akses,” kata dia.

