Realisasi Investasi Tembus Rp 1.418 Triliun di 2023, Sektor Sekunder Sumbang 52%
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Investasi/BKPM mencatat, realisasi investasi di Indonesia mencapai Rp 1.418 triliun sepanjang tahun 2023. Dari nilai tersebut, 52% di antaranya datang dari sektor sekunder.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM, Nurul Ichwan mengatakan, investasi di Indonesia selalu bertumbuh setiap tahunnya, termasuk saat kondisi pandemi Covid-19. Bahkan nilai investasinya selalu melampaui target yang diberikan dalam tiga tahun terakhir.
“Target yang diberikan Pak Presiden di 2021 sebesar Rp 900 triliun, kita alhamdulillah bisa melampaui sekitar Rp 901 triliun. Kemudian di 2022 dinaikkan lagi targetnya menjadi Rp 1.200 triliun dan alhamdulillah bisa terlampaui juga sedikit Rp 1.207 triliun,” kata Nurul Ichwan dalam acara Investortrust Economic Outlook 2024, Kamis (25/1/2024).
Baca Juga
Sementara itu, pada 2023 targetnya sebesar Rp 1.400 triliun dan terealisasi di angka Rp 1.418 triliun. Nurul Ichwan menyebut pencapaian ini adalah buah kerja sama semua pihak, yakni pelaku usaha, pembuat kebijakan, hingga media yang berperan penting menyebarkan informasi.
“Kemarin Pak Menteri menekankan, selama media bisa memberikan informasi yang akurat dan positif, maka insyaallah perekonomian Indonesia bisa tersampaikan secara akurat dengan baik bahwa kita berada dalam kondisi yang cukup optimis,” ujar Nurul Ichwan.
Dari Rp 1.418 triliun nilai investasi yang masuk di 2023, Nurul Ichwan menyebut sebanyak 52% di antaranya berasal dari sektor sekunder, yakni yang berhubungan dengan industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya.
Baca Juga
Istana Sebut Pernyataan Jokowi soal Presiden Boleh Kampanye Disalahartikan
Sementara itu sektor tersier menempati posisi kedua dengan dengan kontribusi 38%, sedangkan sektor primer menyumbang 10%. Menurut Nurul Ichwan, menonjolnya sektor sekunder ini adalah hal yang baik untuk ke depannya.
“Ini merepresentasikan bahwa kita sudah mulai bergeser dari sektor yang primer menuju ke sektor yang sekunder. Ini baik karena biasanya nilai tambah itu banyak terjadi di sektor industri. Karenanya kita berbesar hati bahwa industri yang merupakan pencipta nilai tambah, ini merupakan sektor terbesar selama tiga tahun berturut-turut dari sisi realisasi investasi,” sebut Nurul Ichwan.

