Aliansi Ekonom: Pertumbuhan 6–7% Tak Cukup, Indonesia Butuh Transformasi Struktural
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Aliansi Ekonom Indonesia memberikan tanggapan terhadap pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya menyebut aksi demonstrasi di Indonesia akan berkurang apabila pertumbuhan ekonomi nasional mampu didorong hingga 6%–7%. Menurut para ekonom, persoalan ini tidak bisa hanya dipandang dari sisi pertumbuhan semata, melainkan perlu dilihat secara lebih menyeluruh.
Perwakilan Aliansi Ekonom Indonesia, Lili Yan Ing, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi hanyalah salah satu dari banyak indikator yang mencerminkan kesejahteraan masyarakat. Ia menekankan bahwa kualitas pertumbuhan jauh lebih penting ketimbang sekadar mengejar angka.
“Angka pertumbuhan hanyalah satu dari jutaan indikator makro dan mikro ekonomi. Yang paling utama adalah kualitas dari pertumbuhan ekonomi itu sendiri,” ujar Lili dalam konferensi pers Deklarasi Desakan Ekonomi Aliansi Ekonom Indonesia, Selasa (9/9/2025).
Senada dengan itu, ekonom Gumilang Sahadewo menilai bahwa target pertumbuhan 8% tidak bisa dicapai secara instan. Menurutnya, diperlukan perubahan struktural yang mendasar agar Indonesia dapat mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Pertumbuhan ekonomi 8% tidak bisa diraih dalam waktu singkat. Diperlukan transformasi struktural untuk memastikan target itu tercapai,” jelas Gumilang.
Baca Juga
Soal 17+8 Tuntutan Rakyat, Menkeu Purbaya: Itu Suara Sebagian Kecil Masyarakat
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pemerintah juga perlu memperhatikan indikator lain di luar pertumbuhan ekonomi, seperti pembangunan sumber daya manusia, perbaikan tata kelola kelembagaan, serta pengurangan misalokasi anggaran dalam kebijakan publik.
“Jika fondasi pembangunan ekonomi diperkuat, maka indikator lainnya akan membaik dan pada akhirnya pertumbuhan yang berkualitas dapat tercapai,” tambahnya.
Dengan demikian, Aliansi Ekonom Indonesia menilai bahwa mengejar angka pertumbuhan semata tidak cukup untuk mengatasi masalah sosial, termasuk demonstrasi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, serta benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Sebelumnya, Menkeu Purbaya berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga minat untuk melakukan demonstrasi berkurang. “Begitu saya ciptakan pertumbuhan ekonomi 6%–7%, demonstrasi akan hilang otomatis. Mereka akan sibuk bekerja dan menikmati hasilnya dibanding turun ke jalan,” kata Purbaya, Senin (8/9/2025).

