Ekonom HSBC Sebut Reformasi Struktural Sangat Diperlukan untuk Capai Pertumbuhan Ekonomi RI 8%
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memiliki target pertumbuhan ekonomi yang ambisius, yakni 8% pada 2025-2029. Chief India and Indonesia Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari menilai, reformasi struktural akan sangat dibutuhkan untuk mencapai hal tersebut.
Menurutnya, saat ini pertumbuhan ekonomi yang tercermin dari produk domestik bruto (PDB) di dalam negeri naik sekitar 4,9% per September 2024. Pertumbuhan ini cukup berat di saat banyak negara yang sulit menggenjot ekonominya.
“Saya pikir angka tersebut (8%) adalah target yang menantang. Dalam beberapa hal, saya rasa idenya adalah untuk bergerak ke arah tersebut,” ujar Pranjul, dalam Media Briefing HSBC: Indonesia & Asia (Investment & Economic) Outlook 2025, di Jakarta, Kamis (9/1/2025).
Baca Juga
Ekonomi Indonesia 2025 Diprediksi Positif, HSBC: Peluang Bagi Investasi di Obligasi Rupiah
Ia mengatakan, dengan dorongan kebijakan fiskal dan stimulus saja tidak akan cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level tersebut. Karena, yang paling dibutuhkan mencapai pertumbuhan ekonomi 8% adalah reformasi struktural.
“Reformasi struktural akan sangat diperlukan, terutama untuk meningkatkan rantai nilai manufaktur dan memperluas hilirisasi,” kata Pranjul.
Baca Juga
Ekonom HSBC Nilai Makan Bergizi Gratis Bisa Bikin Masyarakat Lebih Produktif dan Dorong Ekonomi
Saat ini, lanjut dia, Indonesia sudah berhasil beralih dari hanya sekadar negara pengekspor bahan mentah menjadi negara yang mendapat nilai tambah dengan memproduksi logam kemudian menjualnya.
Namun, saat ini Indonesia perlu naik ke tingkat rantai yang lebih tinggi, seperti menjamah baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), kendaraan listrik, serta berbagai barang konsumer seperti alas kaki, furnitur, mainan, dan produk lainnya yang sebelumnya sudah dijual ke Amerika Serikat (AS) dalam skala besar.
“Ini perlu ditingkatkan lebih lanjut. Jadi, diversifikasi dan peningkatan rantai nilai manufaktur akan menjadi hal yang sangat penting jika Indonesia ingin mendekati target pertumbuhan 8%,” ucap Pranjul.

