Awali Sesi, Rupiah Tertekan Penguatan Dolar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Rupiah kembali melemah pada Rabu (4/9/2025) seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 33 poin atau 0,2% ke Rp 16.448 per dolar AS.
Rupiah terkoreksi akibat menguatnya indeks dolar AS yang naik 0,08% menjadi 98,2. Penguatan dolar AS terjadi serentak terhadap sejumlah mata uang utama, seperti yen Jepang (0,05%), yuan China (0,02%), euro Eropa (0,06%), poundsterling Inggris (0,11%), won Korea Selatan (0,31%), dan ringgit Malaysia (0,04%).
Baca Juga
Rupiah Perkasa Awal September, Sentimen Manufaktur Jadi Katalis
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan, investor merespons data tenaga kerja AS yang melemah. Survei bulanan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) mencatat jumlah lowongan kerja pada Juli 2025 turun 176.000 menjadi 7,18 juta, terendah sejak September 2024 dan di bawah proyeksi pasar sebesar 7,4 juta.
“Kondisi ini memunculkan sentimen hati-hati, terutama karena permintaan tenaga kerja yang melemah dapat memengaruhi ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS,” ujar Andry dalam keterangannya, Kamis (4/9/2025).
Di sisi lain, data pesanan pabrik di AS juga mencatat kontraksi 2 bulan berturut-turut. Menurut Andry, pelemahan data ekonomi ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap kenaikan utang Pemerintah AS yang dinilai tidak berkelanjutan akibat kebijakan fiskal ekspansif Presiden AS Donald Trump. “Kekhawatiran global atas utang AS meningkat, sehingga mendorong permintaan terhadap aset safe haven, seperti emas dan obligasi pemerintah jangka pendek,” jelasnya.
Meningkatnya permintaan terhadap aset aman mendorong imbal hasil (yield) sekuritas jangka pendek naik karena ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS (The Federal Reserve). Namun, obligasi jangka panjang tertekan oleh aksi jual sehingga yield naik tajam.
Baca Juga
JISDOR Tunjukkan Rupiah Ditutup Melemah Tipis Perdagangan Senin 1 September 2025
Sementara di pasar domestik, indeks harga saham gabungan (IHSG) justru bergerak menguat. IHSG naik 1,08% ke 7.885,86 pada Rabu (3/9/2025), mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 2,6 basis poin (bps) menjadi 6,4%, sedangkan yield obligasi pemerintah denominasi dolar AS naik 1 bps ke 5,1%.
“Pandangan kami, hari ini nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.382-Rp 16.465 per dolar AS,” kata Andry.
