Ekonom Ungkap Sejumlah Pemicu Utama Penyebab Gelombang Demonstrasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gelombang demonstrasi yang meluas dalam beberapa hari terakhir dinilai para ekonom dan peneliti tidak lepas dari faktor ekonomi, lemahnya kebijakan pemerintah, serta isu keadilan sosial. Mereka menilai keresahan publik merupakan kombinasi tekanan harga, ketimpangan kesejahteraan, hingga menurunnya kepercayaan terhadap pemerintah.
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan lonjakan harga kebutuhan pokok menjadi pemicu utama. Menurutnya, kebijakan fiskal dan subsidi yang ada belum cukup menyentuh kebutuhan riil masyarakat.
Baca Juga
Pasar Tertekan Gejolak Politik, Ekonom Minta Pemerintah Perkuat Komunikasi dan Empati
“Ketimpangan semakin terasa karena sebagian kelompok menikmati pertumbuhan, sementara masyarakat kecil menanggung beban inflasi,” ujarnya dalam diskusi Indonesia di Persimpangan: Ketimpangan, Reformasi Fiskal, dan Masa Depan Ekonomi, yang diadakan secara daring, Senin (1/9/2025).
Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, turut menyoroti persoalan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Ia juga menekankan lemahnya komunikasi pemerintah yang membuat kebijakan sulit dipahami masyarakat.
“Kebijakan harga pangan, energi, hingga penyaluran bantuan sosial belum berpihak pada rakyat kecil. Kebijakan yang tidak dikomunikasikan dengan baik memicu kesalahpahaman dan memperbesar potensi aksi protes,” lanjut Esther.
Baca Juga
IHSG Ditutup Akhirnya Anjlok 1,21%, Sebaliknya 6 Saham ARA Dipimpin TMPO
Sementara itu, Manajer Riset dan Pengetahuan The Prakarsa, Roby Rushandie, menekankan pentingnya keadilan sosial. Ia juga menilai minimnya partisipasi publik dalam perumusan kebijakan ikut memperparah kondisi.
“Masyarakat merasa tidak dilibatkan, sehingga aksi demonstrasi menjadi pilihan untuk menyuarakan aspirasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, ketiga narasumber itu pun sepakat bahwa tekanan harga dan ketimpangan menjadi faktor dominan, sedangkan dari sisi sosial-politik, rendahnya kepercayaan publik dan terbatasnya ruang partisipasi memperkuat gelombang protes.
Mereka pun menekankan pentingnya langkah korektif dari pemerintah agar eskalasi tidak berlanjut. Perbaikan komunikasi, kebijakan yang lebih inklusif, serta penanganan masalah ekonomi mendesak dianggap menjadi kunci meredam keresahan masyarakat.

