Gini Ratio Menurun pada Maret 2025, Tren Positif pada Ketimpangan Pengeluaran Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Indonesia terus menunjukkan tren positif dalam upaya pemerataan pengeluaran penduduk, sebagaimana tercermin dari data terbaru Maret 2025. Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk, yang diukur menggunakan Gini ratio, tercatat sebesar 0,375 pada Maret 2025.
Disampaikan Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono, dalam rilis data Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2025, di kantor pusat BPS, Jakarta, Jumat (25/7/2025), angka ini mengindikasikan penurunan dibandingkan periode sebelumnya, sebuah sinyal yang menjanjikan dalam upaya pemerintah untuk mengurangi disparitas ekonomi di tanah air.
Sekadar informasi, Gini ratio adalah alat ukur ketimpangan yang vital, di mana angka nol melambangkan pemerataan sempurna, artinya setiap orang atau kelompok menerima pendapatan yang sama dengan yang lainnya.
Sebaliknya, angka satu menunjukkan ketimpangan mutlak, di mana seluruh pendapatan hanya diterima oleh satu orang atau satu kelompok saja. Dengan Gini ratio nasional sebesar 0,375 pada Maret 2025, angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,006 poin jika dibandingkan dengan Gini ratio September 2024 yang mencapai 0,381, dan juga menurun 0,004 poin dari Gini ratio Maret 2024 yang tercatat sebesar 0,379.
Periode Maret 2019 hingga Maret 2025 secara nasional memperlihatkan penurunan berkelanjutan pada angka Gini ratio, meskipun terdapat kenaikan pada Maret 2020 dan September 2020 yang diakibatkan oleh dampak pandemi Covid-19. Setelah tahun 2020, Gini ratio mengalami fluktuasi, bahkan sempat mencapai 0,388 pada Maret 2023, yang merupakan angka tertinggi sejak Maret 2019.
Namun, pada Maret 2024, nilai Gini ratio tercatat menurun menjadi 0,379, sekaligus menjadi angka terendah dalam periode Maret 2019 hingga Maret 2024, menandakan perbaikan tingkat pemerataan pengeluaran. Meskipun sempat naik tipis pada September 2024 menjadi 0,381, tren positif kembali terlihat jelas pada Maret 2025 dengan penurunan menjadi 0,375.
Baca Juga
BPS Sebut Beras, Rokok, dan Telur Penyumbang Utama Garis Kemiskinan Indonesia
Perbedaan tingkat ketimpangan juga tampak jelas antara daerah perkotaan dan perdesaan.
“Pada Maret 2025, Gini ratio di daerah perkotaan tercatat sebesar 0,395, yang merupakan penurunan 0,007 poin dibanding September 2024 (0,402) dan penurunan 0,004 poin dibanding Maret 2024 (0,399). Sementara itu, Gini ratio di daerah perdesaan tercatat lebih rendah, yaitu 0,299, menunjukkan penurunan 0,009 poin dibandingkan September 2024 (0,308) dan 0,007 poin dibandingkan Maret 2024 (0,306),” tutur Ateng.
Angka yang lebih rendah di perdesaan seringkali mengindikasikan distribusi pengeluaran yang lebih merata di wilayah tersebut.
Selain Gini ratio, tingkat ketimpangan juga dianalisis melalui persentase pengeluaran kelompok penduduk 40% terbawah, sebuah ukuran yang dikenal dengan metode Bank Dunia. Berdasarkan ukuran ini, pada Maret 2025, persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40% terbawah secara nasional adalah sebesar 18,65%. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 0,24% poin dibandingkan kondisi September 2024 yang sebesar 18,41%, dan meningkat 0,25 % poin dibanding kondisi Maret 2024 yang sebesar 18,40%.
Peningkatan persentase ini secara umum diinterpretasikan sebagai perbaikan dalam distribusi pengeluaran, karena kelompok masyarakat dengan pengeluaran terendah menerima porsi yang lebih besar dari total pengeluaran.

