Ini Alasan Gini Ratio Indonesia Stagnan
JAKARTA, Investortrust.id - Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menyebut penyebab Gini Ratio Indonesia yang mengalami stagnasi di kisaran 0,38-4. Menurut dia, stagnasi ini terjadi karena tidak optimalnya kebijakan untuk penanganan kemiskinan dan pembangunan.
“Sejak bansos pada 2018 yang mencapai Rp 308,4 triliun dan sekarang Rp 496,8 triliun kok tingkat ketimpangannya begitu-begitu saja,” kata Eko, saat diskusi Mengurai Gagasan Capres pada Debat Kelima, yang digelar daring, Jumat (02/02/2024).
Kondisi ini semakin unik, kata Eko, karena tren kemiskinan mengalami penurunan. Era penurunan ini terjadi setelah melewati Covid-19.
“Tetapi, kemiskinan turun, perlinsos (perlindungan sosial) naik. Ini agak tidak relevan,” kata
Melihat kondisi itu, Eko menduga ada kebijakan bansos yang perlu dikaji ulang. Sebab, perlindungan sosial tersebut terlihat tidak maksimal menjangkau masyarakat miskin.
Baca Juga
Alasan yang lain, kata Eko, yaitu kesempatan yang tidak merata di banyak aspek. Misalnya, terjadinya ketimpangan antarwilayah yang tinggi.
“Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Papua itu banyak ketimpangan di situ. Sehingga, menghasilkan angka (gini rasio) yang susah diturunkan,” ujar dia.
Menurut Eko, perlu kebijakan yang bisa menurunkan gini ratio yaitu pembangunan wilayah yang merata. Tidak hanya sekadar nilai investasinya semata yang diperbesar, tapi juga diperlukannya keberpihakan pada masyarakat lokal.
“Pemerintah sering bilang, investasinya sudah mulai bergeser ke luar Jawa. Tapi, padat modal juga. Di luar Jawa sana juga tidak banyak merekrut tenaga kerja daerah lokal. Sehingga ketika dicatat BPS, gini rasionya, ya tinggi,” kata dia.
Selain itu, Eko menyebut diperlukannya pemanfaatan dana desa secara optimal agar ketimpangan antara desa dan kota bisa dipangkas. Salah satu yang pernah diriset Indef, kata Eko, yaitu mengalokasikan dana desa tidak hanya sekadar untuk pembangunan infrastruktur.
“Harapan kami ada capres yang menawarkan gagasan dana desa itu 50% atau 70% kalau perlu untuk pemberdayaan di desa. Bentuknya bisa macam-macam. Untuk UMKM-nya, industri kreatif atau produk kreatif di desa, termasuk pemberdayaan talenta-talenta di desa,” kata dia.

