BI: ULN Indonesia Capai US$ 435,6 Miliar, Swasta Mulai Alami Kontraksi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2025 tercatat sebesar US$ 435,6 miliar atau berumbuh 6,8% (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan April 2025 mencapai 8,2% (yoy).
Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, pelemahan ini disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN di sektor publik dan kontraksi pertumbuhan ULN swasta.
BI memaparkan, posisi ULN pemerintah pada Mei 2025 sebesar US$ 209,6 miliar atau tumbuh 9,8% (yoy) atau lebih rendah dari pertumbuhan 10,4% (yoy) pada April 2025.
Baca Juga
Penerbitan Surat Utang Korporasi Melambung 48% di Semester I-2025, Sektor Pulp dan Kertas Memimpin
ULN tersebut dipengaruhi oleh pembayaran jatuh tempo Surat Berharga Negara (SBN) internasional, di tengah aliran masuk modal asing pada SBN domestik, seiring tetap terjaganya kepercayaan investor global terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian perekonomian global.
"Sebagai salah satu instrumen pembiayaan APBN, pemanfaatan ULN terus diarahkan pada program prioritas dalam mendukung stabilitas dan momentum pertumbuhan ekonomi dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan pengelolaan ULN," kata Ramdan Denny, dalam laporan tertulis, Senin (14/7/2025).
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,3% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (18,7%); Jasa Pendidikan (16,5%); Konstruksi (12,0%); serta Transportasi dan Pergudangan (8,7%).
Baca Juga
BREN, CUAN, dan PTRO Mendadak Melesat Dekat ARA, Ini Sentimen Pemicunya
"Posisi ULN pemerintah tersebut tetap terjaga karena didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9% dari total ULN pemerintah," jelasnya.
Utang Swasta
Sementara pada Mei 2025, posisi ULN swasta tercatat sebesar US$ 196,4 miliar atau mengalami kontraksi 0,9% (yoy), lebih besar dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 0,4% (yoy).
Perkembangan tersebut bersumber dari ULN lembaga keuangan yang mencatat perlambatan pertumbuhan dari bulan sebelumnya sebesar 2,8% menjadi 1,2% pada Mei 2025, dan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporation) yang mencatat kontraksi pertumbuhan sebesar 1,4% (yoy), lebih tinggi dibandingkan kontraksi 1,2% (yoy) pada April 2025.
Baca Juga
Klaim Rasio Utang Indonesia Terendah di G20, Menkeu Belum Buka Datanya ke Publik
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,2% dari total ULN swasta.
"ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,5% terhadap total ULN swasta," sambung Ramdan Denny.
Bank Indonesia meyakini, struktur utang luar negeri saat ini tetap sehat. Hal itu tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terjaga sebesar 30,6%, serta didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 84,6%.

