Ekonomi Inggris Alami Kontraksi, Turun 0,1% pada Oktober
LONDON, investortrust.id - Ekonomi Inggris mengalami kontraksi tak terduga pada Oktober di tengah ketidakpastian dari kalangan bisnis dan konsumen menjelang pengumuman anggaran pemerintah baru.
Produk Domestik Bruto (PDB) turun sebesar 0,1% secara bulanan, menurut Kantor Statistik Nasional (ONS) pada Jumat (13/12/2024). Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya output produksi. Sebelumnya, para ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan PDB akan tumbuh 0,1% pada Oktober.
Ini menandai penurunan ekonomi dua bulan berturut-turut di negara Britania Raya itu, setelah penurunan PDB sebesar 0,1% pada September.
PDB riil diperkirakan tumbuh 0,1% dalam tiga bulan hingga Oktober dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya yang berakhir pada Juli, menurut ONS.
Poundsterling melemah setelah rilis data yang mengecewakan ini, turun 0,3% terhadap dolar AS menjadi $1,2627 pada pukul 07:45 waktu London.
Dalam sebuah pernyataan pada Jumat, Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves mengakui bahwa angka pada Oktober “mengecewakan,” tetapi membela strategi ekonomi pemerintah yang kontroversial.
“Kami telah menerapkan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” katanya, merujuk pada kebijakan seperti pembatasan pajak perusahaan dan peluncuran strategi infrastruktur selama 10 tahun.
Pada akhir Oktober, Reeves mengumumkan anggaran pertama pemerintah sejak menggantikan pemerintahan Konservatif yang lama pada Juli.
Anggaran tersebut mencakup rencana pemerintahan Perdana Menteri Keir Starmer untuk menaikkan pajak sebesar £40 miliar ($50,5 miliar). Reeves mengatakan kenaikan ini akan dicapai melalui sejumlah kebijakan baru, termasuk peningkatan pajak Asuransi Nasional yang dikenakan pada penghasilan, kenaikan pajak capital gain, serta penghapusan pembayaran bahan bakar musim dingin untuk pensiunan.
Beberapa kebijakan tersebut menuai kritik luas. Kenaikan pajak gaji melalui Asuransi Nasional, misalnya, memunculkan kekhawatiran dari kalangan bisnis yang memperingatkan bahwa mereka akan lebih enggan merekrut pekerja baru. Laporan dari situs rekrutmen Indeed minggu ini menunjukkan kebijakan ini sudah berdampak pada penurunan lowongan pekerjaan di Inggris.
Dampak Suku Bunga
Data PDB Oktober memberikan pukulan baru bagi ekonomi Inggris, yang masih berjuang mengendalikan inflasi dan mencatat data kepercayaan konsumen yang lemah dalam laporan baru pada Jumat.
Namun, pengamat pasar tidak yakin bahwa data terbaru ini akan mengubah komitmen Bank of England (BOE) untuk secara "bertahap" menurunkan suku bunga.
Bank sentral memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan terbarunya di November dan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level 4,75% pada pertemuan berikutnya minggu depan, menurut data swap indeks semalam.
Thomas Pugh, ekonom Inggris di RSM, mengatakan data terbaru, ditambah dengan inflasi yang kembali mendekati 3% di Inggris, menunjukkan risiko bahwa Inggris “kembali tergelincir ke wilayah stagflasi.”
“Kami masih memperkirakan ekonomi akan mempercepat kembali pertumbuhannya pada 2025 — meskipun demikian, perkiraan kami tentang pertumbuhan kuartal-ke-kuartal sebesar 0,3% di kuartal keempat sekarang terlihat terlalu ambisius,” urai Pugh, seperti dikutip CNBC.
Namun, ia meragukan data ini akan mendorong Bank of England untuk memberikan kejutan kepada pasar dengan ‘hadiah Natal’ berupa penurunan suku bunga pada pertemuan 19 Desember nanti.
Sementara itu, Suren Thiru, direktur ekonomi di Institute of Chartered Accountants di Inggris dan Wales, sepakat bahwa penurunan suku bunga di bulan Desember adalah “tidak mungkin.”
“Terlepas dari angka-angka suram ini, kemungkinan penurunan suku bunga bulan ini tetap rendah karena beberapa pembuat kebijakan kemungkinan cukup khawatir dengan kenaikan inflasi baru-baru ini untuk menunda pelonggaran kebijakan hingga Februari,” tulis Thiru dalam sebuah catatan.

