Dolar Balik Menguat Bikin Rupiah Tertekan, Pasar Cemas Kebijakan Pemerintah AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah tertekan imbas menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang perdagangan Rabu (2/7/2025). Data Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs rupiah ditutup melemah 44 poin (0,27%) ke level Rp 16.236 per dolar AS.
Kemudian pada perdagangan spot, data Bloomberg hingga pukul 16.45 WIB menunjukkan kurs rupiah bergerak terdepresiasi 47 poin (0,29%) ke level Rp 16.246 per dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) seperti dilansir Bloomberg juga menguat 0,05% ke level 96,8.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, tertekannya kurs rupiah pada hari ini tidak lepas dari kecemasan pasar akibat arah kebijakan pemerintah AS ke depan. Di tengah meningkatnya taruhan The Fed akan memangkas suku bunga pada bulan September, Menteri Keuangan AS Scott Bessent justru mengatakan ia melihat skenario lain.
Baca Juga
Rupiah Pagi Hari Ini Anjlok, Trump dan The Fed Bikin Pasar Resah
Selain itu ketidakpastian atas implikasi fiskal dari RUU pemotongan pajak dan belanja yang didukung oleh Trump, yang disetujui dalam pemungutan suara Senat yang ketat pada hari Selasa lalu, juga menjadi sorotan pelaku pasar.
"RUU tersebut sekarang akan dibawa kembali ke DPR untuk pemungutan suara terakhir. Analisis terbaru menunjukkan RUU tersebut dapat menambah utang pemerintah hingga US$ 3,3 triliun selama dekade berikutnya," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (2/7/2025).
Kemudian Trump pada hari Selasa menandai beberapa kemajuan menuju kesepakatan dagang dengan India, yang dapat membantu negara Asia Selatan tersebut menghindari tarif dagang AS yang lebih tinggi minggu depan. Presiden mengatakan bahwa ia yakin India siap untuk menurunkan hambatan dagang bagi perusahaan-perusahaan AS, dan bahwa hal ini dapat membuka jalan menuju penangguhan tarif 26% yang direncanakan terhadap negara tersebut.
Baca Juga
Rupiah Ditutup Melonjak di Tengah Surplus Perdagangan 61 Bulan
Namun Trump jauh kurang positif terhadap pembicaraan dengan Jepang, setelah mengeluhkan tentang kebijakan perdagangan negara tersebut awal minggu ini. Trump mengatakan bahwa ia tidak yakin apakah kesepakatan akan tercapai, dan bahwa Jepang dapat menghadapi tarif 30% hingga 35% atas ekspor ke Amerika Serikat.
Trump mengulangi ancamannya bahwa ia akan menulis surat kepada Tokyo yang menguraikan tarif yang lebih tinggi. Pasar berada dalam ketegangan atas rencana tarif Trump, dengan Washington telah menandatangani beberapa kesepakatan dagang sebelum batas waktu 9 Juli untuk tarif dagang yang lebih tinggi.
"Sejauh ini, AS telah menandatangani kesepakatan dagang dengan Inggris dan kerangka kerja perdagangan terbatas dengan Tiongkok. Tarif perdagangan AS yang lebih tinggi diperkirakan akan menyebabkan gangguan ekonomi yang meluas," tutur Ibrahim.

