Prasasti Sebut Investasi Jadi Kunci Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), menyebut target pertumbuhan ekonomi 8% memerlukan lonjakan investasi besar. Hal itu disampaikan oleh Research Director Prasasti Center for Policy Studies, Gundy Cahyadi.
“Kita sempat menikmati pertumbuhan investasi double digit di sekitaran 15%. Di tahun terakhir, 2024, pertumbuhan investasi itu hanya mencapai sekitaran 6%. Ini yang perlu kita dongkrak untuk bisa memenuhi pertumbuhan ekonomi secara solid yang mencapai 8%,” ujar Gundy dalam peluncuran Prasasti di Jakarta, Senin (30/6/2025).
Berdasarkan kajian Bappenas, total investasi yang tercatat di tahun 2024 mencapai Rp 1.700 triliun. Sementara itu, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% di tahun 2029, dibutuhkan Rp 3.400 triliun per tahun. Jika dijumlahkan dari 2025 hingga 2029, maka investasi yang diperlukan mencapai Rp 13.000 triliun.
“Angka yang sangat besar, Rp 13.000 triliun itu kurang lebih 2/3 dari perekonomian Indonesia. Jadi bayangkan kita perlu, mungkin analoginya adalah kita perlu menambahkan satu lagi pulau Sumatera dan pulau Jawa di perekonomian Indonesia,” jelasnya.
Meski demikian, Gundy menyebut Indonesia tidak memulai dari nol. Di sektor strategis seperti mineral, minyak dan gas, serta pertanian dan pemasaran, tercatat potensi investasi yang sudah tersedia mencapai Rp 9.500 triliun.
Baca Juga
Di Forum SPIEF 2025 Prabowo Sampaikan Keyakinannya RI Bisa Capai Pertumbuhan Ekonomi 7%
“Total investasi yang tersedia di saat ini itu berjumlah sekitar Rp 9.500 triliun. Ini 3/4 dari apa yang kita perlukan di 5 tahun ke depan untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di 8%. Jadi intinya tantangannya sangat luar biasa, tapi potensinya juga sangat banyak di Indonesia saat ini,” ujar Gundy.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa investasi asing tetap diperlukan, mengingat tabungan nasional belum cukup untuk membiayai kebutuhan investasi domestik.
“Pada kenyataannya, savings gap di Indonesia itu masih negatif. Kalau tahun 2014, savings gap di Indonesia itu sekitar 3% dari GDP. Di 3 tahun terakhir mungkin rata-rata savings gap itu sekitar 0,5% dari GDP,” ujarnya.
Namun, Gundy membawa kabar baik terkait kepercayaan investor global terhadap Indonesia. Ia menegaskan bahwa investasi berperan penting dalam pembangunan nasional.
“Di tahun 2024, jumlah investasi asing yang masuk ke Indonesia itu di US$ 227 miliar. Yang sebenarnya sekitar 6 kali lipat kalau kita bandingkan di level di tahun 2014,” katanya.
“Satu, investasi tentunya mendorong industrialisasi yang lebih cepat, meningkatkan produktivitas dalam negeri. Dan kedua adalah investasi akan meningkatkan supply dari pekerjaan formal di Indonesia. Dan ketiga bukan hanya meningkatkan supply pekerjaan formal, tapi juga meningkatkan kualitas pekerjaan yang tersedia untuk Indonesia,” jelasnya.
Namun, ia mencatat dua tantangan utama. Pertama, rasio antara investasi dan penciptaan lapangan kerja menurun. Kedua, peningkatan pekerjaan lebih banyak terjadi di sektor non-formal, bukan formal.
“Jadi mungkin tantangan terbesar dari investment yang perlu kita ingatkan bahwa kita perlu kebijakan yang konkret untuk menjawab tantangan terkait ketenagakerjaan di Indonesia,” pungkas Gundy.
Sekadar informasi, Prasasti Center for Policy Studies merupakan lembaga think tank independen nasional yang berfokus pada riset strategis dan inovasi kebijakan di bidang ekonomi, geopolitik, dan kebijakan publik.

