Pantau Harga Minyak, Airlangga Bocorkan Skema Bansos 'ala' 2022
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, pemerintah akan terus memantau volatilitas harga minyak global sebelum mengucurkan insentif dalam bentuk bantuan sosial (bansos) di tengah konflik Timur Tengah yang memicu pergolakan harga komoditas energi.
"Ya kita lihat tergantung daripada harganya. Dahulu (2022) kita lakukan bansos karena harga komoditas melonjak," ujar Airlangga di kantornya, Jakarta, Kamis (26/6/2025).
Airlangga mengatakan, kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung ke anggaran pemerintah. "Pasalnya, Indonesia kan harga minyak itu tidak di pass through ke masyarakat. Jadi ada komponen subsidi," kata dia.
Bila harga minyak mentah dunia naik tajam, Airlangga memastikan, pemerintah akan memberikan insentif untuk masyarakat. Langkah ini pernah dilakukan saat meletusnya konflik Rusia dan Ukraina pada 2022. Saat itu, pemerintah memberikan paket kebijakan bansos, seperti program bantuan langsung tunai (BLT), bantuan subsidi upah (BSU), hingga subsidi transportasi daerah.
Selain itu, APBN yang tak lagi mampu menahan harga minyak mentah membuat pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, seperti Pertalite dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000.
Baca Juga
Minyak Dunia Naik-Turun, Bahlil: Kalau Lewati US$ 82 Ada Perhitungan Baru, Kita Berdoa Saja
Meski begitu, Airlangga menganggap, harga minyak mentah dunia saat ini cenderung lebih stabil dibanding kondisi 2022. Sebab, Amerika Serikat (AS), kata dia, kini telah membuka diri sebagai bagian dari negara pengekspor minyak mentah dunia.
"Amerika sendiri kan sekarang net exportir, jadi berbeda dengan peperangan yang lalu, saat suplainya BBM-nya kekunci, tetapi sekarang relatif lebih terbuka. Jadi ya kita monitor saja bagaimana kelanjutan," jelas dia.

