Harga Minyak Tertinggi Sejak 2022, Bitcoin Terkoreksi di Awal Pekan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) turun di tengah harga minyak yang melesat hampir 20% karena konflik Timur Tengah yang meningkat, memicu kekhawatiran akan kekurangan pasokan besar di pasar energi global.
Data dari platform derivatif terdesentralisasi Hyperliquid menunjukkan harga minyak naik dari US$ 95 menjadi US$ 113,7 per barel tak lama setelah pasar berjangka AS dibuka, karena Irak memperingatkan bahwa sekitar 3 juta barel per hari produksi dapat terganggu karena ancaman Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Ini adalah harga minyak tertinggi yang pernah dicapai sejak April 2022, beberapa minggu setelah Rusia memulai invasinya ke Ukraina, menurut data TradingView.
Baca Juga
Harga minyak naik lebih dari 30% pekan lalu setelah AS dan Israel menyerang Iran, yang menyebabkan negara yang dilanda perang itu melakukan serangan balasan terhadap beberapa negara tetangganya di Timur Tengah.
Pada perdagangan awal pekan waktu Asia, Bitcoin sempat ada di bawah US$ 66.000 turun dari US$ 66.960 saat pasar berjangka AS dibuka sebelum kembali naik ke $66.272 pada saat publikasi. Data Hyperliquid juga menunjukkan bahwa harga minyak telah mendingin menjadi US$ 105 per barel.
Padahal Bitcoin naik selama konflik Timur Tengah pekan lalu, yang menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei. Koin nomor wahid itu naik dari di bawah US$ 64.000 menjadi US$ 73.770 pada hari Rabu.
Baca Juga
Bitcoin Sentuh Level Tertinggi 4 Pekan, Bisa Naik ke US$ 78.000?
Namun sejak itu, harga Bitcoin telah turun selama empat hari berturut-turut. Trump tidak khawatir tentang harga minyak dan ia memperkirakan kenaikan harga minyak yang cepat ini akan berumur pendek.
“Kami memperkirakan harga minyak akan naik dan memang akan naik. Harga minyak juga akan turun. Harga minyak akan turun sangat cepat,” kata Trump.

