Inflasi Volatile Food Naik, Tertinggi Sejak Agustus 2022
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi harga bergejolak (volatile food) pada Maret 2024 sebesar 10,33% secara tahunan atau year on year (yoy). Inflasi yang naik ini tercatat merupakan tertinggi sejak Agustus 2022.
“Inflasi harga bergejolak (volatile food) ini tertinggi sejak Agustus 2022. Pada Juli 2022, inflasi harga bergejolak sempat tercatat lebih tinggi, yaitu sebesar 11,47%,” kata Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, di kantornya, Jakarta, Senin (1/4/2024).
Baca Juga
Harga Beras dan Daging Ayam Melonjak, Inflasi Tahunan Maret Naik Tembus 3,05%
Harga Beras, Daging, Ayam, Telur Naik
Amalia mengatakan, inflasi harga bergejolak pada Maret 2024 mengalami kenaikan yang signifikan dibanding periode Februari 2024, yang mencapai 8,47%. Kenaikan ini dikarenakan adanya tekanan inflasi pada komponen harga bergejolak, di antaranya beras, daging, ayam ras, cabai merah, telur ayam ras, bawang putih, dan tomat.
“Komponen ini memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan. Andilnya sebesar 1,64%,” kata dia.
Sementara itu, komponen inflasi inti pada Maret tercatat sebesar 1,77% secara tahunan. Komponen ini turut memberikan andil yang cukup besar pada inflasi secara umum, yaitu sebesar 1,14%.
Meski demikian, kata Amalia, tekanan inflasi komponen inti secara tahunan relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. “Komoditas yang memberikan andil inflasi pada Maret 2024 di antaranya adalah emas perhiasan, gula pasir, nasi dengan lauk, biaya kontrak rumah, dan biaya sewa rumah,” ucap dia.
Baca Juga
Kenaikan Harga Perhiasan Emas Dominan Beri Andil Inflasi Inti
Tekanan yang lebih rendah terhadap inflasi terjadi pada komponen harga diatur pemerintah 1,39%. Komponen ini menyumbang 0,27% dari total inflasi umum. “Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah sigaret kretek mesin (SKM), sigaret kretek tangan (SKT), sigaret putih mesin (SPM) dan tarif angkutan udara,” ujar dia.

