Pertahankan Opini WTP, Laporan Keuangan BI 2024 Ungkap Lonjakan Surplus Segini
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2024 dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dengan demikian, BI berhasil mendapatkan opini WTP selama 22 tahun terakhir.
“Bank Indonesia senantiasa berupaya meningkatkan pelaksanaan tata kelola yang baik dan kualitas pengelolaan keuangan guna menjaga kredibilitas sebagai bank sentral,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dikutip Kamis (26/6/2025).
Baca Juga
Berdasarkan laporan keuangan tahun 2024, BI mengalami surplus sebelum pajak sebesar Rp 67,35 triliun. Setelah dikurangi pajak, surplus sebesar Rp 52,19 triliun atau naik 43,77% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 36,3 triliun.
Surplus ini didorong peningkatan penghasilan, yaitu sebesar Rp 228,66 triliun yang ditopang oleh pelaksanaan kebijakan moneter. Komponen kebijakan moneter BI tercatat sebesar Rp 226,89 triliun atau naik 19,79% dari 2023 yaitu Rp 189,4 triliun.
Penopang komponen ini, yaitu pendapatan dari bunga sebesar Rp 91,53 triliun dan pendapatan dari selisih kurs transaksi valuta asing sebesar Rp 54,57 triliun.
Pendapatan dari selisih kurs transaksi valuta asing merupakan dampak penjabaran transaksi valuta asing ke rupiah dalam rangka pengelolaan devisa dan pelaksanaan kebijakan moneter. Kenaikan pendapatan tersebut disebabkan oleh selisih kurs yang merupakan dampak kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dalam rangka menjaga kestabilan nilai rupiah.
Baca Juga
Menkeu Berharap Bank Sentral Negara Maju Turunkan Suku Bunga di Semester II-2025
Pendapatan selisih kurs tersebut berasal dari realisasi selisih revaluasi penjabaran valuta asing sebesar Rp 46,02 triliun dan realisasi dari selisih revaluasi transaksi Valuta Asing sebesar Rp 8,55 triliun.
Sementara itu, beban yang harus dijalankan BI meningkat di atas penghasilan yang diterima. Pada 2024 lalu, jumlah beban BI sebesar Rp 161,31 triliun atau naik 12,84% dari tahun sebelumnya yaitu Rp 142,96 triliun.
Komponen beban terbesar BI adalah pelaksanaan kebijakan moneter sebesar Rp 84,07 triliun. Beban bunga yang harus ditanggung BI sebesar Rp 73,33 triliun. Pos ini terdiri atas instrumen keuangan kebijakan berbasis utang dan beban remunerasi atas GWM bank umum.
Baca Juga
Jelang RUPST, Dua Direksi Bank Panin (PNBN) Mengundurkan Diri. Ada Investor Baru?
Selain itu hubungan keuangan dengan pemerintah sebesar Rp 55,01 triliun. Jika dijabarkan, pos ini terdiri dari remunerasi kepada pemerintah sebesar Rp 22,03 triliun, beban kontribusi Surat Berharga Negara (SBN) untuk pemulihan ekonomi nasional di sektor public goods sebesar Rp 26,19 triliun, dan beban kontribusi SBN dalam rangka kesehatan sebesar Rp 6,48 triliun.
Ekonom dari Bright Institute Awalil Rizky mencermati informasi kenaikan pesat penghasilan Bank Indonesia pada 2024 di atas menarik untuk dicermati, apalagi jika dikaitkan dengan dinamika sektor moneter dan keuangan. Dia melihat pelemahan nilai tukar rupiah justru memberi kontribusi besar bagi penghasilan.
Begitu pula dengan pendapatan bunga dan yang sejenisnya mengalami peningkatan seiring dengan kenaikan BI rate dan bunga lending facility. Ditambah dengan tingkat diskonto atau yield SBN di pasar sekunder berkaitan dengan kepemilikan BI yang makin besar.

