Dampak Kenaikan PPN Tak Signifikan ke Pertumbuhan Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan menyebut kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) sejatinya tak terlalu signifikan berdampak ke pertumbuhan ekonomi.
“Kenaikan PPN ini akan menekan pertumbuhan ekonomi karena selama 2023 itu pertumbuhan ekonomi kita memang sudah turun, dari 5,31% di 2022 menjadi 5,05% di 2023,” kata Abdul Manap, saat diskusi “PPN Naik, Beban Rakyat Naik” yang digelar Indef, Rabu (20/3/2024).
Dia mengatakan saat kenaikan tarif PPN dari 10% menjadi 11% pada 2022 terjadi kenaikan harga komoditas global yang signifikan. Ini menyebabkan kenaikan PPN itu tidak terlalu berpengaruh signifikan ke ekonomi domestik. Buktinya, hal itu baru terasa di 2023.
“Ketika kenaikan PPN 2022 itu bergerak langsung ke 2023 itu berdampak signifikan ke ekonomi nasional, terlihat nanti ada penurunan konsumsi rumah tangga dan sektor lainnya,” ujar dia.
Baca Juga
Apindo Beberkan Sejumlah Kekhawatiran Terkait Penyesuaian Tarif PPN 12%
Menurut Abdul Manap, komposisi penerimaan PPN dalam negeri tercatat mencapai 25,49% dari penerimaan pajak non-migas. Sementara itu, PPN impor membukukan angka sebesar 13,68% yang dipengaruhi depresiasi nilai tukar rupiah.
“Makanya sangat bahaya ketika nanti di tengah-tengah ekonomi yang tidak bagus saat ini dihajar lagi dengan kenaikan PPN yang justru orang akan menghemat belanja,” ucap dia.
Secara kontribusi, sejak 2015-2023 kontribusi PPN terhadap penerimaan pajak non-migas bergerak fluktuatif di angka 38,66% hingga 44,89%. Pada 2023, kontribusi PPN bagi penerimaan pajak non-migas sebesar 39,17%.
Rencananya, tarif PPN akan dinaikkan lagi dari 11% menjadi sebesar 12% mulai 1 Januari 2025.
Penurunan Konsumsi
Abdul Manap mengatakan sejak 2022 hingga 2023 terjadi penurunan sejumlah komponen yang bersinggungan dengan PPN. Beberapa di antaranya adalah pengeluaran konsumsi rumah tangga yang secara akumulatif turun 0,11% dari 4,93% pada 2022 menjadi 4,82% pada 2023.
Baca Juga
Sandiaga: Kenaikan Tarif PPN Jadi 12% Tak Akan Pengaruhi Industri Pariwisata
Selain itu, penurunan juga terjadi pada komponen transportasi dan komunikasi yang turun 1,79% dan restoran dan hotel yang turun 0,2%. “Ini khawatirnya ketika PPN naik, orang akan cenderung menahan untuk plesiran,” ujar dia.
Kondisi menahan ini menyebabkan sektor konsumsi non-kebutuhan pokok itu menurun. Padahal, konsumsi sektor ini juga berpengaruh ke pertumbuhan ekonomi.
“Lebih dari 50% ekonomi kita disusun oleh konsumsi rumah tangga,” ujar dia.

