Kenaikan Suku Bunga Jepang Tak Pengaruh Signifikan ke Ekonomi Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut kenaikan suku bunga Bank Sentral Jepang (BOJ) tak berdampak, atau tidak akan berpengaruh besar, ke pergerakan arus modal yang masuk atau keluar. Perry mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah di berbagai negara sangat tergantung pada kekuatan nilai tukar dolar Amerika Serikat.
“Kami tidak melihat kebijakan BOJ berpengaruh besar ke pergerakan inflow dan outflow maupun nilai tukar rupiah,” kata Perry, saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (20/3/2024).
Baca Juga
Bank Sentral Eropa Isyaratkan Penurunan Suku Bunga pada Juni
Ia mengatakan, ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi mengakibatkan terjadinya capital outflow (dana keluar) dari Surat Berharga Negara (SBN), dan sebagian dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hal ini juga seiring dolar AS yang masih cukup kuat.
Sementara itu, Deputi Wakil Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, kenaikan suku bunga di Jepang tidak terasa pengaruhnya di pasar. Destry mengatakan justru pengaruh dolar AS yang menguat.
“Indeks dolar AS trennya menguat, setelah Jepang menaikkan suku bunga dan mereka melonggarkan limit untuk yield (imbal hasil). Suku bunga yang naik dari Jepang tersebut belum berdampak ke rupiah. Masih belum terlihat dampaknya signifikan,” kata Destry.
Lonjakan Upah dan Harga Konsumen
BOJ telah menaikkan suku bunga jangka pendek menjadi 0%-0,1%, dari sebelumnya di angka -0,1%. Kenaikan suku bunga ini diputuskan setelah terjadi lonjakan upah dan harga konsumen.
Selain itu, BOJ secara perlahan mengurangi pembelian obligasi korporasi. Langkah ini diharapkan akan dihentikan dalam satu tahun. Sementara itu, Bank Sentral Jepang akan terus melanjutkan pembelian obligasi pemerintahnya dengan jumlah yang sama, seperti sebelumnya.
Baca Juga
BOJ tercatat menurunkan suku bunga di bawah nol pada tahun 2016. Ini dalam upaya untuk merangsang perekonomian negara yang stagnan.
Angka resmi terbaru menunjukkan, meski tingkat kenaikan harga telah melambat, inflasi konsumen inti Jepang bertahan pada target bank sebesar 2% pada Januari lalu.

