Inflasi Jepang Lampaui Proyeksi, Spekulasi Kenaikan Suku Bunga Menguat
JAKARTA, Investortrust.id - Indeks inflasi acuan Jepang melampaui perkiraan pada bulan Januari, memperkuat argumen bagi Bank of Japan (BOJ) untuk mengakhiri kebijakan suku bunga negatifnya.
Harga konsumen di luar makanan segar naik 2% dari tahun sebelumnya, melampaui perkiraan konsensus sebesar 1,9% dan sejalan dengan target inflasi BOJ, demikian data yang dilansir Kementerian urusan dalam negeri yang dirilis Selasa (27/2/2024 yang dilansir Bloomberg. Sementara itu nilai tukar Yen menguat sekitar 0,1% setelah data tersebut dilansir.
Data inflasi yang lebih kuat dari yang diperkirakan akan mempertahankan spekulasi pasar bahwa BOJ mendekati kenaikan suku bunga pertamanya sejak 2007, langkah yang oleh sebagian besar pengamat, bakal dilakukan BOJpada bulan April.
“Data hari ini mendukung normalisasi BOJ dalam beberapa bulan mendatang,” kata Koya Miyamae, ekonom senior di SMBC Nikko Securities dilansir Bloomberg. Paket perjalanan luar negeri merupakan pendorong utama untuk kelebihan Indeks Harga Konsumen (CPI) pada bulan Januari 2024. Biaya-biaya tersebut naik sebesar 63%. “Tiba-tiba melonjak setelah tidak ada kenaikan dalam tiga tahun terakhir,” kata Miyamae.
Gubernur BOJ Kazuo Ueda memberikan sinyal soal keyakinan atas prospek untuk menjaga inflasi di atas 2%. Udea juga memperkirakan siklus ekonomi yang baik dengan inflasi akan naik secara bertahap dengan peningkatan dalam upah dan serapan lapangan pekerjaan yang akan menguat.
Baca Juga
Inflasi diperkirakan akan melonjak kembali pada bulan Februari karena dampak langkah-langkah bantuan harga pemerintah mulai berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Perkiraan median dari 25 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg menunjukkan inflasi inti yang tidak termasuk makanan segar akan mencapai 2,4% pada kuartal pertama dan kedua tahun 2024.
Sementara itu, tingkat inflasi inti kemungkinan akan melonjak di atas 2,5% pada bulan Februari, demikian disampaikan Miyamae.
Februari menjadi bulan ke-22 berturut-turut dengan angka inflasi yang sesuai dengan perkiraan BOJ. Indikator inflasi yang tidak termasuk makanan segar dan harga energi, indikator kunci untuk tren harga yang mendasar, juga melampaui konsensus, naik 3,5%. Para ekonom memperkirakan akan naik 3,3%. Pertumbuhan di sektor jasa melambat menjadi 2,2%.
“Ini menjaga ekspektasi pasar untuk penyesuaian kebijakan BOJ tetap terjadi sesegera mungkin, mungkin pada bulan Maret,” menurut Hiroaki Muto, ekonom di Sumitomo Life Insurance Co.
Namun, fundamental ekonomi saat ini membutuhkan komunikasi yang hati-hati oleh BOJ jika memilih untuk mulai menaikkan suku bunga. Ekonomi tergelincir ke resesi teknis pada akhir tahun lalu karena konsumen dan bisnis mengurangi pengeluaran. Pertumbuhan upah tertinggal dari inflasi, menempatkan tekanan pada anggaran rumah tangga. Itu sebagian menjelaskan mengapa dukungan Perdana Menteri Fumio Kishida merosot.
Yen yang diperdagangkan di sekitar level terendah multi-dekade versus dolar AS juga bisa menghidupkan kembali inflasi yang didorong oleh impor dan merugikan konsumsi lebih lanjut. Mata uang yang lemah telah membantu mendorong saham Jepang ke level tertinggi sepanjang masa berkat permintaan kuat dari investor luar negeri, tetapi tidak meningkatkan sentimen di Jepang. Individu Jepang cenderung tidak berinvestasi dalam saham secara aktif seperti rekan-rekan mereka di negara-negara maju lainnya.
Laporan hari Selasa menunjukkan harga listrik dan gas turun lebih dari 20% pada bulan Januari dari tahun sebelumnya. Subsidi pemerintah untuk listrik dan gas mengurangi 0,48 poinpersen dari angka inflasi keseluruhan. Harga makanan olahan, yang menjadi driver inflasi utama, naik 5,9%, melambat dari 6,2% pada bulan Desember. Harga penginapan meningkat sebesar 27%, melambat dari 59%.

