Menkeu: Indonesia Dorong Impor Energi dan Produk Pertanian dari AS
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah akan meningkatkan impor komoditas strategis dari Amerika Serikat (AS). Beberapa jenis komoditas strategis yang akan diimpor Indonesia di antaranya minyak, gas alam cair (LNG), serta produk pertanian seperti gandum, kedelai, dan jagung.
Hal tersebut disampaikan dalam wawancara bersama CNBC International pada Rabu (24/4/2025).
Sri Mulyani mengatakan hambatan perdagangan dan non-perdagangan saat ini menjadi fokus pemerintah Indonesia. Pemerintah akan mengevaluasi berbagai hambatan perdagangan, baik tarif maupun non-tarif, guna menciptakan iklim perdagangan yang lebih terbuka dan efisien.
“Di sisi tarif, sebagian besar tarif Indonesia sebenarnya sangat rendah, tetapi kami akan selalu mengevaluasi dan melihat apakah ada area yang dapat kami tingkatkan di sisi tarif,” kata Sri Mulyani dalam keterangan resminya, diakses Minggu (27/4/2025).
Terkait hambatan non-tarif, Sri Mulyani mengakui bahwa Indonesia masih memiliki sejumlah mekanisme yang kerap menjadi perhatian karena dianggap mencegah perdagangan.
“Baik dalam bentuk proses administrasi, misalnya dalam proses bea cukai saat mengimpor barang, atau dalam hal penilaian, prosedur perpajakan, atau karantina untuk produk pertanian,” ujar dia.
Lebih lanjut, dia menyoroti pentingnya produk pertanian asal Amerika Serikat yang memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan Indonesia.
“Produk seperti gandum, kedelai, dan jagung merupakan produk pertanian yang juga dikonsumsi di Indonesia secara cukup signifikan. Kita mengimpor tidak hanya dari Amerika Serikat tetapi juga dari banyak negara lain," ucap dia.
Dalam konteks tersebut, mantan Ditektur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan, Indonesia selalu dapat membahas bagaimana dapat mempersempit kesenjangan dan menempatkan AS pada posisi yang lebih baik.
"Untuk menyediakan jenis produk pertanian ini,” kata dia.
Di sektor energi, Sri Mulyani menekankan bahwa meskipun merupakan negara penghasil minyak dan gas, kapasitas produksi Indonesia masih belum mencukupi kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu, pemerintah melihat peluang untuk meningkatkan impor energi, khususnya LNG, dari AS.
“Jadi ini semua adalah area di mana kita tentu dapat melakukan outsourcing minyak dan gas dari Amerika Serikat, termasuk produk Boeing dan sebagainya. Ada juga beberapa komoditas serta produk manufaktur di mana kita dapat mempersempit, mengurangi, atau bahkan menghilangkan surplus ini,” ucap dia.

