Menko Airlangga: Tawaran Indonesia untuk Impor Energi dan Pertanian dari AS Belum Final
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan rencana impor di sektor energi dan pertanian yang ditawarkan Pemerintah Indonesia kepada Pemerintah AS belum menjadi keputusan akhir.
“Masih dalam konteks pembahasan,” kata Airlangga saat paparan perkembangan negosiasi perdagangan Indonesia-AS yang digelar daring Jumat (25/4/2025).
Baca Juga
Terkesan Surat Menko Airlangga soal Tarif Dagang, Menkeu AS: Terima Kasih Indonesia
Airlangga menjelaskan perincian dari negosiasi Indonesia dan AS akan disampaikan oleh kedua belah pihak begitu ada kesepakatan. Hal ini mengingat proses perundingan masih berjalan dinamis.
“Apa yang ditawarkan dan respons tentu ini masih dinamis. Jadi bukan posisi statis,” kata dia.
Airlangga menyebut tantangan yang dihadapi Indonesia justru karena menjadi negara pertama yang masuk dalam negosiasi. Keputusan yang muncul dari perundingan Indonesia-AS akan menjadi bagian daya tawar bagi 70 negara mitra dagang lain.
Meski begitu, Airlangga mengatakan keunggulan yang menarik perhatian AS dalam perundingan perdagangan ini, yaitu usulan waktu pembahasan yang pendek. Seperti disampaikan sebelumnya, pemerintah menargetkan pembahasan tarif perdagangan akan selesai pada 60 hari.
“Ini diapresiasi oleh berbagai negara yang kebetulan sedang ada di Washington,” ujar dia.
Airlangga mengatakan pemerintah terus mendorong perdagangan yang adil dan terbuka, baik di level bilateral maupun multilateral. Dicontohkan, dengan pengalihan ekspor dan impor komoditas perdagangan.
“Ini bukan dalam zero sum game dan ekonomi diharapkan bisa tumbuh,” kata dia.
Baca Juga
Siasati Perang Tarif Trump, Kemendag Beberkan Strategi Berikut
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan proses perundingan tidak dilakukan dalam bentuk grup kawasan negara. Meski begitu, Indonesia dan negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) masih bisa bertukar informasi mengenai potensi kerja sama.
“Untuk memitigasi risiko dan berbagai kemungkinan,” ucap Sri Mulyani.

