Menkeu Akan Manfaatkan Penundaan Penerapan Tarif AS
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indawati mengatakan akan memanfaatkan waktu jeda 90 hari yang dibuat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai pelaksanaan tarif impor.
Pemerintah Indonesia akan memanfaatkan jeda waktu ini untuk menghindari risiko negatif dari tarif impor terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Perkiraan situasi ini, sebelum jeda, bisa mengurangi pertumbuhan (ekonomi) potensial kami antara 0,3% hingga 0,5% dari PDB,” kata Sri Mulyani, dikutip dari Reuters, Kamis (10/4/2025).
Sri Mulyani menjelaskan waktu 90 hari ini akan digunakan untuk menghasilkan kerangka kerja sama yang saling menghormati negara-negara lain. Selain itu, langkah ini akan digunakan untuk mempererat kerja sama dengan negara-negara tetangga untuk meningkatkan ketahanan di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga
Donald Trump Tunda Penetapan Tarif Impor, Wamenkeu: Tunggu Reaksi Banyak Negara
“Kita harus terus bersikap sangat hati-hati. Pengeluaran harus dibuat lebih efisien, tepat sasaran, dan efektif dalam mendukung pertumbuhan di sisi moneter,” ujar dia.
Ekonom Universitas Andalas Sumatera Barat Syafruddin Karimi mengatakan pernyataan Sri Mulyani menunjukkan langkah diplomasi strategis yang patut diapresiasi. Sebab, di tengah tekanan tarif sepihak dari AS, Indonesia tidak hanya merespons secara bilateral, namun juga memilih membangun solidaritas regional.
“Kerangka kerja sama ini harus diwujudkan dalam agenda konkret—seperti penguatan rantai pasok regional, harmonisasi standar industri, dan perluasan pasar intra-Asean—agar tidak berhenti pada retorika diplomatik,” ujar Karimi.
Karimi mengatakan, dalam konteks game theory, strategi ini merupakan langkah membentuk koalisi negara berkembang untuk menyeimbangkan kekuatan negara adidaya yang makin agresif. Jika dijalankan secara konsisten, Indonesia bukan hanya memperkuat daya tahan nasional.
“Tetapi juga ikut memimpin transformasi ASEAN menjadi kekuatan ekonomi yang lebih mandiri, tangguh, dan dihormati dalam arsitektur global,” kata dia.

