LPS Sebut Langkah Pemerintah Jaga Permintaan Domestik Sangat Tepat
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa langkah pemerintah Indonesia dalam menjaga permintaan domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global merupakan kebijakan yang sangat tepat.
Pasalnya, kekuatan konsumsi dan investasi domestik mampu menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi di dalam negeri jika gejolak ekonomi global tak kunjung berhenti.
“Seandainya global economy kacau balau, apa kita harus takut? Enggak juga. Saya sih orangnya optimis banget,” ujar Purbaya, dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia, yang digelar di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Baca Juga
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 63,36% dari produk domestik bruto (PDB), sementara pembentukan modal tetap bruto atau investasi menyumbang sekitar 32%.
“Kalau kita jaga domestic demand kita, global morat-marit, biar aja. Jadi langkah kebijakan yang saya lihat dari Pak Prabowo tadi dan Bu Sri Mulyani kelihatan sekali kita memang menjaga domestic demand, itu saya pikir langkah yang tepat sekali,” kata Purbaya.
Baca Juga
LPS Sebut Kepercayaan Publik Terhadap Presiden Prabowo Tertinggi Sepanjang Sejarah Survei
“Jadi, santai saja kalau (ekonomi) global marit-marit. Enggak usah takut karena domestic demand kita kuat, dan selama kita menjaga itu, kita akan tetap tumbuh dengan baik,” sambungnya.
Purbaya juga menekankan pentingnya komunikasi kepada pasar bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam keadaan yang sangat baik. “Pasar atau pemain di pasar enggak usah terlalu khawatir. Ini ada dari IPB, dari ISEI, itu tolong disebarkan ke pasar bahwa itu yang terjadi sebetulnya,” ucapnya.
Di kesempatan yang sama, ia juga menyoroti stabilitas sektor keuangan yang berkontribusi besar terhadap keberlangsungan fungsi intermediasi di perbankan. Baik Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Menteri Keuangan sangat berperan besar sehingga berhasil mendorong kredit perbankan tumbuh double digit.
“Tapi yang paling penting saya lihat itu, kredit investasi naik ke level sekarang 14,62%, itu level yang tertinggi, kira-kira tertinggi selama beberapa tahun terakhir. Kalau investasi kan pasti melihatnya ke depan, beberapa bulan ke depan,” ujar Purbaya.
Menurutnya, terlepas dari beragam tantangan dan ketidakpastian ekonomi global, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih tetap tangguh untuk menghadapinya. “Ekonomi kita sedang ekspansi, kira-kira global turbulensi masalah perang tarif juga mungkin kita malah diuntungkan. Jadi profil ekonomi kita bagus,” kata Purbaya.

