Impor Barang Konsumsi Februari Turun, Ini Penyumbangnya
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Februari 2025 terjadi penurunan impor barang konsumsi sebesar 10,61% secara bulanan menjadi US$ 1,47 miliar dari US$ 1,64 miliar pada Januari 2025.
Berdasarkan kode HS dua digit yang tercatat memengaruhi penurunan impor barang konsumsi secara bulanan, yaitu buah-buahan, daging hewan, dan serealia. Impor buah-buahan turun sebesar 34,72% secara bulanan, daging hewan turun 64,55%, dan serealia sebesar 99,96%.
Baca Juga
Terendah Sejak Januari 2022, Nilai Ekspor Batu Bara Tertekan Imbas Harga Internasional
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, komoditas terbesar yang memberikan andil penurunan secara bulanan, yaitu daging fillet beku dengan nilai impor US$ 14,8 juta atau penurunan US$ 43,5 juta, beras turun US$ 37 juta, jeruk segar dan kering senilai US$ 15,7 juta atau turun US$ 29,2 juta, apel senilai US$ 13,2 juta atau turun US$ 17,9 juta, dan cabai kering dan bubuk senilai US$ 0,4 juta atau turun US$ 16 juta.
"Sementara, secara tahunan, impor barang konsumsi turun 21,05%," kata dia di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (17/3/2025).
Komoditas pendorong penurunan ini adalah beras dengan andil penurunan 15,07%, monitor berwarna dengan andil penurunan 2,6%, dan kendaraan otomotif berbahan bakar diesel dengan andil penurunan 1,01%.
Baca Juga
Naik 5,18% Secara Bulanan, Nilai Impor Indonesia US$ 18,86 Miliar pada Februari
Secara kumulatif, BPS mencatat impor barang konsumsi pada Januari-Februari 2025 turun 14,28% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Komoditas penyumbang utama penurunan ini adalah beras. “Andilnya 13,78% karena kan impor beras Januari-Februari ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu,” kata dia.
Lambatnya impor beras pada periode awal tahun ini karena ketersediaan di dalam negeri. Selain beras, secara kumulatif, penurunan juga terjadi pada komoditas monitor berwarna dan kendaraan berbahan bakar diesel.

