Rupiah Stabil Lanjutkan Tren Pengjatan atas Dolar AS
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah bergerak stabil dengan kembali melanjutkan tren menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (10/3/2025). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat mata uang rupiah ditutup menguat 10 poin (0,06%) ke level Rp16.326 per dolar AS, usai sebelumnya sempat melemah Rp16.336 per dolar AS dalam perdagangan terakhir, Jumat (7/3/2025).
Namun berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak merosot 46 poin (0,28%) ke level Rp16.335 per dolar AS. Adapun dalam perdagangan terakhir Yahoo Finance mencatat mata uang rupiah berada pada posisi Rp16.289 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, investor kini berhati-hati di tengah kekhawatiran kebijakan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump, pekan lalu. Trump meningkatkan ketegangan perdagangan dengan mengenakan tarif 25% pada barang-barang Kanada dan Meksiko, dan meningkatkan pungutan pada produk-produk Tiongkok hingga 20%.
Baca Juga
"Namun, ia kemudian melunakkan pendiriannya, dengan menunda tarif selama empat minggu pada sebagian besar barang-barang Meksiko dan Kanada, tetapi tetap teguh pada pendiriannya terhadap China," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (10/3/2025).
Sehari sebelumnya, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan pada acara "Meet the Press" di NBC bahwa Trump tetap teguh dalam menerapkan tekanan tarif pada Meksiko, Kanada, dan Tiongkok karena penanganan mereka terhadap fentanil.
Dari pasar Asia, tekanan deflasi China meningkat pada bulan Februari, karena harga konsumen dan produsen turun lebih dari yang diantisipasi di tengah belanja konsumen yang lemah. Indeks harga konsumen (CPI) berkontraksi sebesar 0,7% tahun-ke-tahun, menandai penurunan pertama dalam 13 bulan dan melampaui ekspektasi ekonom sebesar 0,4%.
Secara bersamaan, indeks harga produsen (PPI) turun sebesar 2,2% tahun-ke-tahun, sedikit membaik dari penurunan 2,3% pada bulan Januari tetapi masih meleset dari perkiraan penurunan 2,0%.
Tren deflasi ini muncul di tengah Kongres Rakyat Nasional (NPC) yang sedang berlangsung, di mana para pembuat kebijakan sedang mempertimbangkan strategi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Data terkini dapat mengintensifkan diskusi tentang penerapan langkah-langkah stimulus yang lebih kuat untuk melawan melemahnya inflasi dan mendukung permintaan domestik.

