BI Sebut Sentimen Tarif AS Picu Penguatan Rupiah
JAKARTA, Investortrust.id - Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal Maret dipicu oleh dinamika sentimen kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap Kanada, Meksiko dan China.
Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI R. Triwahyono mengamini bahwa nilai tukar rupiah secara month to date (mtd) menguat. Hal ini juga sejalan dengan penguatan yang terjadi di pasar negara berkembang (emerging market).
Tri mengatakan bahwa ketidakpastian global seiring dengan kebijakan-kebijakan pemerintahan Trump yang setidaknya akan dihadapi pasar dalam beberapa tahun ke depan, termasuk sikap AS terhadap Ukraina dan Rusia.
Sementara itu dari sisi domestik, ia menyebutkan bahwa pelemahan rupiah yang sebelumnya terjadi cukup dalam salah satunya turut dipicu oleh rilis Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memberikan pandangan underweight terhadap pasar saham Indonesia.
Baca Juga
Dolar Merosot Imbas Perang Dagang, Bikin Rupiah Lanjut Menguat
Beberapa waktu terakhir, pasar saham domestik mengalami tekanan yang sangat dalam yang disebabkan oleh keluarnya investor asing dari pasar saham Indonesia dan beralih kepada dolar AS sebagai aset safe haven.
“Ketika keluar dan mereka langsung memang back to safe haven, akhirnya mereka membutuhkan dolar. Itu yang mengakibatkan memang tekanan terhadap nilai dolar itu beberapa waktu belakangan ini memang cukup tinggi,” kata Tri dikutip Antara.
Namun, belum lama ini juga muncul assessment baru dari J.P. Morgan yang memberikan pandangan dengan menaikkan peringkat saham perbankan sehingga membuat kondisi berbalik.
“Kita lihat bahwa termasuk hari ini (Kamis) pasar saham di Indonesia relatif mengalami rebound yang cukup tinggi dan ini juga terjadi dampaknya kepada rupiah karena memang banyak di-drive oleh perilaku asing di saham,” tutup Tri.

