Didukung Sejumlah Sentimen Ini, Saham BTN (BBTN) Lanjutkan Penguatan
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) kembali melanjutkan penguatan pada penutupan perdagangan saham, Kamis (11/1/2024), meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) turun tipis. Bahkan, penguatan saham BBTN berlanjut dalam tiga hari berturut-turut.
Berdasarkan data BEI, saham BBTN berhasil menguat 25 poin (1,87%) menjadi Rp 1.360 sepanjang hari ini. Meski sempat melemah ke level Rp 1.325 pada sesi pembukaan, bank spesialis KPR ini berhasil berbalik menguat pada penutupan ke level Rp1.360.
Baca Juga
Bersih-Bersih Kredit Macet, Analis Kerek Naik Target Saham BBTN
Berkat kenaikan tersebut, saham BBTN menunjukkan tren selama sebulan terakhir, termasuk pada perdagangan pekan ini. Saham BBTN telah menguat 5,02% dalam sepekan dan melonjak 12,4% dalam sebulan. Volume transaksi harian juga melonjak di atas rata rata.
Penguatan saham BBTN juga diikuti dengan peningkatan minat investor asing dengan pembelian bersih (net buy) selama sepekan menembus Rp 51,2 miliar. Bahkan, dalam tiga bulan terakhir, net buy asing terhadap saham ini telah mencapai mencapai Rp 74 miliar.
Berlanjutnya penguatan harga saham BBTN ini mencerminkan sentimen positif investor terhadap bisnis bank penyalur KPR terbesar di Indonesia ini. Apalagi setelah ada pengumuman pembayaran klaim polis asuransi eks Jiwasraya oleh PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life) senilai Rp 492 miliar kepada BTN atas polis-polis milik para nasabah BTN.
Baca Juga
Net Buy Berlanjut Rp 849,51 Miliar, Asing Borong Lima Saham Ini
Sentimen positif lainnya datang dari pandangan positif sejumlah analis terhadap sejumlah rencana aksi korporasi BBTN berupa akuisisi bank umum syariah tahun ini serta fokus pasca spin-off unit syariahnya.
Pada pekan lalu, Komisaris sekaligus pemegang saham Bank Muamalat Andre Mirza Hartawan mengonfirmasi bahwa BTN telah mengirimkan surat pernyataan resmi mengenai ketertarikan atau letter of intent (LOI) kepada Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk membeli saham Bank Muamalat.
Perbaikan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) BTN dari hasil penjualan aset juga menjadi katalis positif. BTN telah menyelesaikan fase pertama dari penjualan aset bermasalahnya senilai Rp 861 miliar kepada PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) (PPA) pada 2023.
Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya dalam market review terbaru-nya menyebutkan bahwa penjualan aset tersebut akan membantu penurunan NPL BTN dan mengurangi provisi atau cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).
Baca Juga
Sebelumnya, Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu memproyeksikan NPL BTN akan turun di bawah 3 persen pada 2024. Hingga September 2023, BTN mencatat NPL gross di level 3,53% dan NPL netto di level 1,58%.
Dengan adanya penurunan NPL, BTN memperkirakan biaya kredit (cost of credit) tahun ini dapat berada di kisaran 1,1-1,4% atau di bawah per akhir September 2023 berkisar 1,2 -1,4%.
Beban biaya kredit yang menurun dapat menjadi tambahan amunisi yang cukup bagi BTN untuk meraih target pertumbuhan kreditnya pada tahun 2024 di level 11% year-on-year. Selain konsisten menyalurkan KPR, BTN mulai gencar membidik kredit bermargin tinggi (high-yield loans).
Baca Juga
Lagi-lagi Terjungkal, Saham Emiten Prajogo Pangestu Pemberat Utama IHSG Tahun Ini
Pada pekan lalu, sebanyak 19 analis dari 27 yang disurvei Bloomberg merekomendasikan buy saham BBTN. Sedangkan enam analis menyarankan hold dan tidak terdapat analis yang memberikan rating sell.
Rata-rata target harga saham BBTN yang diberikan sejumlah cenderung naik menjadi kisaran 1.673 pada pekan lalu, lebih tinggi dari target harga pada pekan sebelumnya di angka 1.652.

