Didukung Beragam Faktor Ini, Lompatan Kinerja BTN (BBTN) Diprediksi Berlanjut
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) diproyeksikan lanjutkan pertumbuhan kinerja keuangan yang kuat tahun ini. Pertumbuhan didukung faktor bertumbuhan kredit, penjualan aset bermasalah, klaim asuransi, dan pemulihan kredit.
Adapun rencana spin off unit bisnis syariah yang tengah digodok bakal menciptakan nilai baru bagi perseroan dalam jangka panjang. Hal ini mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga BBTN Rp 1.800.
Manajemen BTN dalam Mandiri Investment Forum 2024 yang digelar pekan lalu mengungkapkan bahwa perseroan membidik pertumbuhan kredit 10-11% tahun 2024, simpanan diproyeksikan bertumbuh 8-9%, serta pertumbuhan laba bersih berkisar 10-11%.
Baca Juga
Jangan Sampai Lolos! Cek Jadwal Lengkap Pembagian Dividen Bank BTN (BBTN)
“Perseroan juga mematok biaya kredit mencapai 1,1-1,2% tahun 2024, NPL diprediksi turun menjadi di bawah 3%, coverate ratio diharapkan meningkat menjadi 160%, CAR diprediksi tetap berada di atas level 19%,” tulis analis Mandiri Sekuritas Boby Kristanto dan Kresna Hutabarat dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Rabu (13/3/2024).
Terkait pertumbuhan kredit, Mandiri Sekuritas menyebutkan, BTN tengah membahas rencana percepatan penyaluran kredit kepemilikan rumah (KPR) subsidi untuk menggapai 3 juta rumah untuk lima tahun ke depan di bawah pemerintah baru. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan tinggi, dibandingkan target pemerintahan saat ini sebanyak 1 juta unit.
Sejumlah skenario disiapkan untuk mencapai target 3 juta rumah tersebut, seperti perpanjangan tenor KPR dari semula 20 menjadi 30 tahun. Sedangkan tingkat suku bunga yang disubsidi disarankan masksimum 10 tahun pertama, seiring dengan asumsi tingkat pendapatan masyarakat membauk untuk bisa membiayai suku bunga komersial. BTN juga mengusulkan peserta penerima subsidi bunga KPR bisa diperluas.
Baca Juga
Rally Saham BBTN Berlanjut, Target Harganya Ternyata masih Menggiurkan
BTN juga mengusulkan agar pemberikan KPR bersubsidi tidak berpaku pada tingkat pendapatan konsumen, tetapi menggunakan harga rumah bersubsidi. Konsumen yang berhak mendapatkan adalah pembeli rumah pertama. Hal ini berbeda dengan kriteria saat ini hanya diberikan kepada masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 8 juta. Adapun masyarakat dengan penghasilan Rp 8-15 juta tidak diperenankan mendapatkan subsidi.
BTN (BBTN) juga mengusulkan perubahan skema pemberian subsidi bagi konsumen menjadi subsidi, yaitu nasabah dikenai bunga tetap 5% per tahun dan sisanya ditanggung pemerintah. Dengan dmeikian imbal hasil yang diperoleh bank dari pencairan subsidi KPR bisa lebih tinggi, sehingga NIM penyalur KPR bisa naik.
Baca Juga
Siap-Siap! BTN Jakarta International Marathon Bakal Digelar 23 Juni 2024
Adapun proyeksi pertumbuhan laba tahun 2024, Mandiri Sekuritas menyebutka, BTN masih memiliki sumber penopang, seperti rencanan penyelesaian penjualan aset bermasalah berkisar Rp 2 triliun tahun ini. Perseroan juga masih memiliki klaim dari IFG berkisar Rp 200 miliar tahun ini. Perseroan juga berharap mendpatkan dana recovery NPL berkisar Rp 900 miliar tahun ini atau hampir sama dengan realisasi tahun lalu.
“BTN juga berpotensi mencatatkan pertumbuhan pendapatan dari treasury transactions tahun ini yang diharapkan ikut menopang peningkatan kinerja keuangan tahun ini,” tulis Mandiri Sekuritas.
Rencana Spin Off
Boby dan Kresna mengatakan, BTN tengah menggelar due diligence akuisisi PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Aksi ini bagian dari kelanjutkan spin off unit usaha syariah perseroan. “Manajemen BTN menilai bahwa Bank Muamalat memiliki basis nasabah yang bisa mendongkrak simpanan syariah untuk menopang pertumbuhan BTN Syariah ke depan,” terangnya.
Baca Juga
Bank BTN (BBTN) Tetapkan Dividen Rp 700,18 Miliar, 20% dari Laba Tahun 2023
Meski demikian, Mandiri Sekuritas menyebutka, BTN akan terlebih dahulu memastikan bahwa akuisisi tersebut bisa meningkatkan nilai dan sinergi bagi perseroan ke depan. Hal ini bertujuan untuk menaikkan nilai perusahaan ke depan.
Selain akuisisi Bank Muamalat, dia menyebutkan, BTN memiliki opsi lain untuk meneingkatkan nilai unit usaha syariah dengan menjajaki akuisisi bank syariah lain dengan nilai yang lebih kecil.

