Menperin 'Blak-blakan' Bongkar Penyebab Banyak Pabrik Tutup dan PHK Massal
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita blak-blakan membongkar penyebab banyak pabrik tutup dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Industri manufaktur baru-baru ini dilanda tekanan hebat yang ditandai penutupan pabrik tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias Sritex, pabrik trafo PT Sanken Indonesia, hingga pabrik alat musik, PT Yamaha Music Indonesia.
Baca Juga
Sanken dan Yamaha Susul Sritex Tutup Pabrik, Menaker Singgung PHK
Menperin menjelaskan, penutupan pabrik tersebut disebabkan berbagai alasan, di antaranya penurunan demand pasar ekspor, mismanagement pabrik, hingga perubahan strategi bisnis principal yang ingin mendekatkan basis produksi dengan pasar di luar negeri. "Selain itu, pelaku usaha terlambat mengantisipasi perkembangan teknologi sehingga kalah bersaing," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/3/2025).
Dari berbagai alasan tersebut, Menperin Agus mengungkapkan, sebagian besar penutupan pabrik disebabkan turunnya permintaan domestik karena pasar dalam negeri dibanjiri produk impor. Selain itu, penyebab PHK didorong pelemahan belanja dalam negeri dan kelangkaan bahan baku.
“Dari beberapa alasan tersebut, kita tidak bisa kendalikan, terutama alasan terkait lemahnya permintaan pasar ekspor. Sedangkan yang terjadi di lapangan, penutupan industri/pabrik lebih banyak terjadi karena strategi bisnis,” ucap Menperin Agus
Namun, kata dia, Kemenperin fokus memonitor penutupan industri terutama disebabkan kelangkaan dan hambatan bahan baku produksi serta upgrade teknologi produksi, untuk bisa mencari penyelesaiannya.
Baca Juga
Kumpulkan Menteri, Prabowo Perintahkan Buruh Sritex yang Terkena PHK Bisa Kembali Bekerja
Terkait PHK dampak penutupan pabrik, ia menegaskan, perlu melihat dari berbagai faktor. Semua pihak harus mencari solusi dengan melakukan sinergi pemangku kebijakan. Instansi lain bisa mengeluarkan kebijakan terkait safeguard, larangan dan pembatasan (lartas), non-tariff barrier.
Sebelumnya Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui pihaknya fokus memantau kinerja sektor industri di dalam negeri di tengah dinamika kondisi perekonomian global. Hal tersebut berpengaruh pada perekonomian nasional, serta sektor industri manufaktur sebagai salah satu kontributor utamanya.
“Kemenperin berupaya meningkatkan investasi baru di sektor manufaktur, mendorong munculnya industri baru sehingga menyerap tenaga kerja sekaligus alternatif pekerja yang terdampak PHK,” kata Agus.

