Pangan Murah Dijual di Pasar Modern, Diskon hingga 50%
JAKARTA, investortrust.id - Pangan murah kini dijual juga di pasar modern, untuk membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat di Bulan Ramadan. Bahkan, ada diskon untuk konsumen hingga 30-50%. Dengan demikian, masyarakat bisa memilih berbelanja pangan pokok di pasar tradisional maupun modern.
Kegiatan ini dilakukan berkolaborasi dengan jaringan retail modern. Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi juga memastikan hal itu tidak akan mendistorsi pasar tradisional, dikarenakan target konsumen yang berbeda dan secara simultan di pasar tradisional juga dimasifkan operasi pasar.
"Konsistensi pemerintah menyediakan pangan pokok strategis dengan harga yang baik bagi masyarakat dilakukan secara merata. Kali ini dengan turut menggandeng Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) agar menyentuh pasar modern, sehingga masyarakat punya pilihan berbelanja pangan pokok, selain di pasar tradisional. Kita semua terima kasih ke Aprindo, karena setelah pasar tradisional, kita juga melakukan hal yang sama di pasar modern. Tadi disebutkan ada discount up to 30%, bahkan sampai 50% dan difokuskan ke komoditas pangan strategis," kata Arief dalam keterangan, dikutip Sabtu (01/03/2025).
Dengan adanya program pangan murah ini, lanjut dia, jangan punya pikiran bahwa kerja sama tersebut akan mengambil pelanggan traditional market. Silakan masyarakat berbelanja dengan bijak.
"Ini semua sama-sama, kan kami sediakan pangan murah dan retail (modern) punya market yang berbeda. Jadi, tak usah khawatir mendistorsi pasar, karena di pasar tradisional melakukan hal yang sama dengan operasi pasar murah, semuanya berjalan bersama," tandasnya.
Harga Cabai Nai ke Rp 82.499/Kg
Arief juga menekankan pentingnya produksi pangan dalam negeri. Terlebih hal itu telah menjadi perintah Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga harga di tingkat petani/peternak, namun tetap harus memberikan harga yang baik di tingkat konsumen.
"Kita semua menjaga harga baik di hulu maupun di hilir. Perintahnya Bapak Presiden itu tidak boleh petani/peternak merugi. Tapi, masyarakat luas juga diberi harga yang baik. Kita mesti bersyukur. Negara tetangga kita hari ini susah. Contohnya beras hari ini di Malaysia krisis. Tapi Indonesia, kita punya cadangan beras sampai 1,9 juta ton. Jadi pemerintah bisa leluasa intervensi," kata Arief.
Ia mengatakan, pemerintah ingin tidak hanya beras yang kuat. Misalnya produksi cabai rawit, hal ini yang juga harus didorong.
"Kondisi cabai sekarang ini memang ada kendala karena faktor hujan. Petani kita tidak bisa petik, sehingga pasokan ke pasar tersendat. Menurut teman-teman Champion Cabai, kemungkinan di minggu kedua dan ketiga nanti, pasokan bisa kembali normal," sebutnya.
Berdasarkan data Panel Harga Pangan NFA, per 27 Februari, rerata harga cabai rawit merah secara nasional menyentuh Rp 82.499 per kilogram (kg). Sementara proyeksi kebutuhan konsumsi nasional dalam sebulan untuk cabai rawit akan mengalami peningkatan 13,52% atau menjadi sekitar 85,2 ribu ton di Ramadan atau Maret 2025.
"Untuk itu, adanya Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) itu sangat penting, sehingga Bapak Prabowo juga mungkin dalam waktu dekat akan memerintahkan cold storage di kota-kota besar untuk dapat menyimpan CPP. Misalnya daging itu bisa dalam frozen condition. Nanti itu bisa dipakai untuk melakukan intervensi kalau ada fluktuasi harga," ucap Arief.
Baca JugaKemdiktisaintek-LPDP Kucurkan Rp 2 Triliun Beasiswa, Anggaran Pendidikan Terbesar Kedua
Penguatan Sarpras
Terkait penguatan sarana dan prasarana (sarpras) logistik pangan, lanjut dia, turut didukung oleh NFA dengan menyalurkan alat-alat yang dapat memperpanjang shelf life. Sejak 2022, NFA telah menyalurkan 19 sarpras ke 8 provinsi antara lain 7 cold storage chiller, 6 reefer container, 3 air blast freezer, dan 3 heat pump.
Di 2023 kembali dilanjutkan penyaluran 11 sarpras di 8 provinsi berupa 4 cold storage chiller, 3 reefer container, 3 air blast freezer, dan 1 heat pump dryer. Sementara di 2024, telah dialokasikan sebanyak 12 unit antara lain 2 cold storage chiller, 5 reefer container, dan 5 air blast freezer.
NFA juga telah melaksanakan kajian penilaian dampak dan evaluasi terhadap sarpras logistik pangan tahun 2022 sampai 2023. Salah satu hasilnya menyebutkan sebanyak 27 dari 29 responden melaporkan adanya peningkatan penjualan lebih dari 5% setelah menerima alat. Ini menjadi indikator bahwa alat yang diterima tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan.
Friday Mubarak
Sementara itu, pada peluncuran program Friday Mubarak, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan program pangan murah yang diselenggarakan Aprindo kali ini akan berlangsung sampai 30 Maret 2025. Target penjualan Rp 75 triliun.
"Di sini, setiap hari Jumat akan lebih banyak promosi dan diskonnya. Saya titip di antaranya nanti setelah bulan April sampai Desember, harus ada satu season lagi agar bisa mendongkrak sales. Tadi dengan Badan Pangan Nasional, kami sudah cek dengan beberapa daerah, relatif kondisi suplai pangan aman,” bebernya.
Ketua Umum Aprindo Solihin menuturkan Friday Mubarak merupakan bentuk kolaborasi apik dengan pemerintah dalam membantu masyarakat. Pihaknya sudah menyediakan stok yang diperkirakan cukup.
Ia memaparkan, dalam menyambut Ramadan tahun ini, pemerintah gencar menggelar program belanja nasional guna mendorong konsumsi masyarakat melalui belanja domestik. Friday Mubarak merupakan inisiatif Aprindo untuk mendukung visi tersebut.
Selanjutnya akan ada lagi program BINA (Belanja di Indonesia Aja) bekerja sama dengan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo). Lalu, Pasar Kreatif Ramadan oleh Pemerintah Provinsi Jakarta hingga Bazar Ramadan, serta Ramadan Sale yang akan diselenggarakan Indonesian E-commerce Association (IdEA).
Baca Juga
Asing Net Sell Jumbo di Semua Pasar Keuangan Sepekan, Mengapa?

