OJK Sebut Risiko Geopolitik Berpengaruh Besar Pada Situasi Ekonomi Domestik, Mengapa?
Baca Juga
OJK: Faktor Pendukung Kuat, Pertumbuhan Ekonomi 8% Bisa Dicapai
"Kalau melihat ini (BGRI), tingkatan geopolitical risk kita saat ini itu bisa dibilang ya hampir 11-12 dengan saat Covid," jelasnya di Kantor Kadin, Jakarta, Jumat (28/2/2025).
Mahendra turut membandingkan kondisi ini dengan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Menurutnya, meskipun saat itu indeks risiko geopolitik melonjak tinggi, kemudian turun karena mulai diinternalisasi dalam perhitungan risiko pasar.
"Cuman bedanya waktu Rusia masuk ke Ukraina dia naik tinggi di situ, tapi sudah itu turun karena kemudian dia jadi diinternalisasi dalam perhitungan risiko," ungkapnya.
Mahendra juga menyoroti bagaimana kondisi pasar saat ini lebih banyak didorong oleh ketakutan dibandingkan oleh fundamental yang kuat. Dengan meningkatnya risiko geopolitik global, pelaku pasar dan pemangku kepentingan di Indonesia diharapkan lebih waspada dalam mengambil keputusan investasi.
"Jadi ini memperlihatkan bahwa anything can happen," ujar Mahendra, sembari mengingatkan bahwa volatilitas pasar saat ini sangat tinggi dan dipengaruhi oleh faktor eksternal yang sulit diprediksi.
Ke depan, Mahendra menyarankan agar para investor lebih memperhatikan indikator risiko geopolitik global sebagai salah satu faktor utama dalam menyusun strategi investasi. Selain itu, pemahaman terhadap dinamika geopolitik juga akan membantu mengurangi ketidakpastian terhadap perekonomian domestik. (C-13)

