Rupiah Rebound, Simak Sentimennya
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Kamis (20/02/2025) sore ini. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat, mata uang rupiah rebound 13 poin (0,07%) ke level Rp 16.344 per dolar AS, dari hari sebelumnya ditutup melemah di posisi Rp 16.357 per dolar AS.
Sementara pada perdagangan di pasar spot valas, mata uang Garuda melemah dari dolar AS. Dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah tergelincir tipis 5 poin (0,03%) ke level Rp 16.335 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan mata uang rupiah dalam perdagangan hari ini tidak lepas dari sejumlah sentimen global yang memengaruhi. "Di antaranya, Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu mengatakan akan mengenakan tarif impor 25% yang direncanakan untuk mobil, farmasi, dan semikonduktor, diberlakukan dalam beberapa bulan mendatang. Dia juga menandai potensi pengenaan tarif 25% untuk semua impor kayu ke AS. Pernyataan Trump ini meningkatkan kekhawatiran bahwa kenaikan tarif AS akan mengganggu perdagangan global, dan memicu perang dagang baru antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia," katanya dalam keterangan di Jakarta, Kamis (20/02/2025).
Baca Juga
Insentif Likuiditas Makroprudensial ke Perumahan Naik Tembus Rp 80 Triliun
Mungkin Kesepakatan dengan Cina
Presiden AS baru-baru ini mengancam akan memberlakukan tarif timbal balik pada mitra dagang utama. Namun, Trump juga mengatakan pada hari Rabu bahwa kesepakatan dagang dengan Cina mungkin saja terjadi, meski ia telah memberlakukan tarif baru 10% terhadap negara tersebut, yang memicu kemarahan dan pembalasan dari Beijing.
Sementara itu, The Fed merilis risalah rapatnya pada 28-29 Januari, yang menunjukkan sikap hati-hati di antara para pejabat karena potensi tekanan inflasi yang timbul dari kebijakan perdagangan dan imigrasi AS baru-baru ini. Rapat tersebut menyoroti kekhawatiran bahwa tarif yang diusulkan Trump dapat mengganggu rantai pasokan global, yang menyebabkan peningkatan biaya dan inflasi yang tinggi. Ketidakjelasan seputar rencana Trump telah meningkatkan keraguan mereka untuk menerapkan pemotongan suku bunga pada tahun 2025.
Baca Juga
Sedangkan di Timur Tengah, Israel dan Hamas akan memulai negosiasi tidak langsung pada tahap kedua kesepakatan gencatan senjata Gaza. Ini dapat membebani harga minyak, dengan mengurangi risiko gangguan pasokan lebih lanjut.

