Rupiah Ditutup Menguat, Simak Sentimennya
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan Selasa (04/03/2025). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat mata uang rupiah menguat 63 poin (0,38%) ke level Rp 16.443 per dolar AS.
Sementara pada perdagangan pasar spot valas yang dilansir Yahoo Finance, mata uang rupiah bergerak menguat 34 poin (0,21%) ke level Rp 16.440 per dolar AS. Adapun pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 16.474 per dolar AS.
"Penghentian sementara semua bantuan militer AS ke Ukraina dikonfirmasi oleh seorang pejabat Gedung Putih pada hari Senin, menyusul bentrokan antara Presiden AS Donald Trump di Ruang Oval dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy minggu lalu. Pasar melihat semakin jauhnya jarak antara Gedung Putih dan Ukraina sebagai tanda potensi meredanya konflik, yang dapat berujung pada pencabutan sanksi bagi Rusia," papar pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, Selasa (04/03/2025).
Dilonggarkan, Sanksi atas Rusia
Reuters melaporkan, penghentian sementara tersebut setelah Gedung Putih meminta Departemen Luar Negeri dan Keuangan AS untuk menyusun daftar sanksi terhadap Rusia yang dapat dilonggarkan. Pejabat AS akan membahasnya dengan perwakilan Rusia dalam beberapa hari mendatang sebagai bagian dari pembicaraan dengan Moskow, menurut sumber.
Presiden Trump pada hari Senin juga mengonfirmasi bahwa tambahan tarif 25% untuk impor dari Meksiko dan Kanada akan mulai berlaku pada tanggal 4 Maret pukul 5:01 GMT. Ia juga menandatangani perintah untuk menaikkan tarif atas barang-barang Cina dari 10% menjadi 20%.
Ibrahim Assuaibi mengatakan, peningkatan tarif atas barang-barang Cina semakin menegangkan hubungan antara AS dan Cina. Cina berjanji akan mengambil tindakan balasan terhadap tarif AS untuk melindungi kepentingannya. Sementara itu, pada Selasa, pemerintah Kanada menyatakan tengah mempersiapkan pembalasannya sendiri.
"Tarif ini diperkirakan akan meningkatkan ketidakpastian perdagangan, mengganggu rantai pasokan, dan melemahkan permintaan ekspor. Hal ini merugikan pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan investor di pasar Asia," ujarnya.
Baca Juga

