Penasihat Presiden: Efisiensi Anggaran untuk Ciptakan Mesin Pertumbuhan Baru
JAKARTA, investortrust.id - Penasihat Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan, efisiensi anggaran yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan mesin pertumbuhan baru. Selama ini, Indonesia hanya tergantung pada peristiwa besar yang bersifat rutin dan non-rutin untuk mendorong mesin pertumbuhan ekonomi.
“Maka kemungkinannya adalah eksekusi program utama Pak Prabowo, makan bergizi gratis (MBG) dan penyediaan 3 juta rumah,” kata Bambang pada "Economic Outlook 2025 and Satisfaction, Loyalty, and Engagement 2025" yang digelar InfoBank TV, diakses Selasa (4/2/2025).
Baca Juga
Bambang mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu bergantung dua hal, yaitu harga komoditas yang sedang mencapai puncak dan acara besar, seperti pemilu dan kegiatan keagamaan. “Kalau ada event besar baik yang rutin, seperti keagamaan, Lebaran, puasa, Natal, dan Tahun Baru, ditambah dengan kegiatan yang sifatnya non-rutin, seperti pemilu itu sangat menolong,” ucap dia.
Menurut Bambang, program MBG dan penyediaan rumah akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru karena efek pengganda (multiplier effect). Program MBG, dengan eksekusi yang baik, akan menjadi stimulus pemerataan pertumbuhan ekonomi. “Jadi penting sekali untuk memastikan MBG bisa menggerakkan ekonomi di tingkat lokal,” ujar dia.
Sementara itu, program 3 juta rumah diharapkan mampu menggerakkan ekonomi. Sebab, dalam kajiannya, properti merupakan salah satu sektor yang memiliki efek pengganda terbesar di Indonesia. “Jadi kalau pemerintah bisa mengeksekusi berapa pun program rumah murah, ini akan sangat membantu, paling tidak memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi pada 2025,” ucap dia.
Baca Juga
Selain menciptakan mesin pendorong baru, Bambang mengatakan, penghematan anggaran memang seharusnya dilakukan. Dia berkaca pada pengalaman saat menjabat direktur jenderal Islamic Research and Training Institute di Islamic Development Bank (IDB) pada 2011. Saat memimpin lembaga itu di Jeddah, Arab Saudi, Bambang menemukan cara sederhana dalam menjamu tamu. “Setiap kali menerima tamu atau rapat, tidak ada snack, enggak ada makan siang, cukup air putih atau paling lumayan teh, dan di meja saya ada kurma,” kata dia.
Melihat suguhan yang ada, Bambang mengartikan memang diperlukan efisiensi. Namun, di satu sisi, dia menyadari pemberian anggaran untuk makanan ringan itu baik untuk pertumbuhan ekonomi. “Dari sisi konsumsi, baik dari konsumsi pemerintah maupun yang nanti berefek ke rumah tangga,” ucap dia.

