Nasib Rupiah Digantung Sidang The Fed 1 November
JAKARTA, investortrust.id – Rupiah terus tertekan dan bergerak menuju level psikologis Rp 16.000 per dolar AS. Namun, Bank Indonesia mampu menjaga lewat intervensinya. Nilai tukar rupiah pada penutupan Selasa (24/10/2023) dan berada di level 15.850 atau terdepresiasi 1,81% sejak awal tahun (year to date/ytd).
Rupiah terdepresiasi dan terus mengalami tekanan seperti mata uang regional lain karena terjadinya capital outflow. Di pasar saham, pada Selasa kemarin terjadi net outflow sebesar Rp 344,9 miliar atau jika dihitung sejak awal tahun (ytd) mengalami net outflow sebesar Rp 9,2 triliun.
Sementara itu, yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun (10YR IDR government bond) telah meningkat 23,7 bps (ytd) ke level 7,15% pada Selasa (24/10). Adapun yield obligasi berdenominasi dolar tenor 10 tahun (10YR USD government bond/INDON) melonjak 141,5 bps (ytd) ke level 6,21%.
Pelemahan rupiah akan memberatkan perekonomian karena ketergantungan impor yang masih tinggi sehingga memicu imported inflation. Hal itu tentu akan mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat, terutama yang kandungan impornya tinggi.
Bagaimana nasib rupiah ke depan, apakah akan melemah atau menguat? Hal ini akan sangat tergantung pada sidang FOMC The Federal Reserve (The Fed) pada 1 November nanti. Apakah Fed Fund rate (FFR) naik atau tidak.
Berikut wawancara investortrust.id dengan Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, Selasa malam (24/10/2023).
Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini apakah murni karena faktor eksternal? Seperti isyarat The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dan kenaikan yield obligasi AS?
In my view, pressure-nya memang datang dari Faktor Global setelah statement Jerome Powell yang menyebutkan kenaikan suku bunga acuan dibutuhkan untuk membawa inflasi AS ke 2%. Sentimen ini membawa Dollar Index terus tinggi di kisaran 105 - 106 (per Senin, 23/10/23) dan membuat mata uang regional mayoritas melemah.
Pasar overhang karena ekonomi Amerika Serikat nggak resesi, bahkan masih bisa tumbuh lebih dari 1,5%. Hal ini membuat tekanan inflasi akan bertahan untuk waktu yang agak panjang. Selanjutnya, market concern, kalau inflasi susah turun ke arah 2%, maka FFR akan naik.
Susahnya, saat ini Th Fed masih menunda kenaikan FFR-nya, karena melihat data-data terakhir per bulan, sehingga sentimen penguatan Dollar Index dan kenaikan yield obligasi AS makin panjang.
Pada sidang FOMC 1 November, kalau The Fed tidak menaikkan FFR juga, maka pasar akan tetap berharap FFR naik di Desember. Dampaknya, investor global belum akan masuk lagi ke emerging markets karena menunggu FFR benar2 mencapai terminal rate (rate tertinggi).
Sampai akhir ini The Fed masih akan menaikkan suku bunga berapa bps?
Berdasarkan Fed Guidance yang terakhir pada September 2023, terdapat potensi kenaikan sebesar 25 bps lagi ke 5,75%.
Apakah benar opini bahwa The Fed tahun depan mengurungkan niat menurunkan suku bunga?
Semua masih tergantung kepada arah inflasi di AS. Jika mengalami penurunan yang signifikan menuju 2% maka The Fed kemungkinan sudah bisa memangkas di Semester II tahun depan.
Apakah ketidakpastian dan geopolitik (Perang Israel-Hamas) ikut berpengaruh?
Ketidakpastian dan geopolitik akan membawa harga minyak dunia ke atas (termasuk komoditas) dan ini akan mengerek inflasi dunia. Jika supply side disruption ini kemudian direspons dengan kenaikan suku bunga acuan lebih agresif, maka akan berpengaruh kepada tekanan capital outflows di emerging markets dan pada akhirnya berpengaruh kepada pelemahan nilai tukar. Ujungnya berdampak ke inflasi dan pertumbuhan ekonomi di emerging markets.
Kalau dari domestik, apakah faktor pelemahan ekspor dan capital outflow juga memengaruhi penurunan rupiah?
Iya, sangat memengaruhi karena mencerminkan permintaan dolar AS yang meningkat, sementara suplai menurun karena surplus neraca perdagangan yang menurun.
Secara fundamental, berapa fair value rupiah, dan berapa prediksi nilai kurs akhir tahun?
Dengan tekanan eksternal yang berlanjut dan ketidakpastian kapan era suku bunga tinggi oleh The Fed akan berakhir, maka koreksi terhadap rupiah dan juga mata uang regional lainnya masih akan berlanjut. Kenaikan suku bunga The Fed akan mendorong permintaan terhadap dolar AS sehingga berpotensi menekan rupiah.
Namun jika pada FOMC meeting menjelang akhir tahun sudah ada kepastian yang membuat kenaikan suku bunga menjadi priced in, maka terdapat potensi rupiah berbalik menguat, didukung oleh kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia. Dalam jangka pendek kami melihat volatilitas rupiah masih cukup tinggi dan dapat bergerak ke kisaran 15.600 – 15.900-an per dolar AS. ***

