Dolar AS Menguat usai BI Pangkas Suku Bunga, Rupiah Ditutup Segini
JAKARTA, investortrust.id - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat di pasar spot valas tepat usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Hal itu membuat mata uang rupiah ditutup melemah 46 poin (0,28%) dalam perdagangan Rabu (15/1/2025) ke level Rp 16.311 per dolar AS dilansir Jisdor BI.
Pergerakan mata uang Garuda juga melemah seperti dilansir oleh Yahoo Finance. Grafik yang ditunjukkan oleh Yahoo Finance memperlihatkan nilai tukar rupiah bergerak melemah 56 poin (0,34%) ke level Rp 16.315 per dolar AS. Adapun pada penutupan perdagangan terakhir, Yahoo Finance merilis posisi mata uang rupiah berada pada kisaran Rp 16.259 per dolar AS.
Diberitakan RDG BI periode 14-15 Januari 2025 memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Keputusan itu disampaikan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo pada konferensi pers RDG periode Januari 2025 di Gedung Thamrin Kantor BI, Jakarta, Rabu (15/1/2025).
"Berdasarkan asesmen menyeluruh dan proyeksi mengenai perekonomian di global maupun nasional tersebut, Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%," kata Perry.
Baca Juga
Selain memangkas BI Rate di level 5,75%, Dewan Gubernur BI juga memutuskan untuk menurunkan suku bunga depost facility dan suku bunga lending facility. Perry mengatakan RDG BI periode Januari 2025 memutuskan untuk menurunkan suku bunga deposit facility 25 bps ke level 5%. Sedangkan suku bunga lending facility juga turun 25 bps menjadi 6,75%.
Meski keputusan untuk memangkas suku bunga mendapatkan ancaman tekanan lebih terhadap stabilitas nilai tukar rupiah, Ekonom Senior sekaligus Head of Macroeconomic & Financial Market Research PT Bank Permata Tbk, Faisal Rachman memiliki pandangan lain. Ia mengatakan meski rupiah cenderung melemah bulan Januari 2025, namun hal ini merupakan fenomena global karena dolar AS menguat hampir ke semua mata uang dunia.
Menurut Faisal, tekanan pada stabilitas rupiah masih ada sejalan dengan ketidakpastian global yang tetap berlangsung. Ekonom Senior Bank Permata itu melihat tekanan terhadap rupiah perlahan sudah mulai dapat terukur dan terkendali. Namun di satu sisi, risiko pada sisi pertumbuhan ekonomi semakin meningkat.
"Pertumbuhan ekonomi tahun 2025 kemungkinan akan tertekan baik dari faktor dalam maupun luar negeri," katanya kepada Investortrust, Rabu (15/1/2025).
Dari kondisi perekonomian global, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi membeberkan saat ini para pedagang dengan hati-hati menunggu laporan indeks harga konsumen AS hari Rabu. Selain itu pasar juga telah mencermati data ekonomi dengan saksama untuk melihat apakah data tersebut mendukung sikap hati-hati Fed terhadap suku bunga.
"Pasar sekarang mengantisipasi hanya satu penurunan suku bunga tahun ini, penyesuaian tajam dari ekspektasi sebelumnya yaitu empat kali penurunan sebelum pertemuan Fed pada bulan Desember, menurut Fedwatch," kata Ibrahim melalui keterangan tertulis, Rabu (15/1/2025).
Presiden terpilih Donald Trump yang akan memulai masa jabatan kedua minggu depan, fokus telah tertuju pada kebijakannya yang menurut para analis akan meningkatkan pertumbuhan dan tekanan harga. Ancaman tarif bersama dengan lebih sedikit penurunan suku bunga Fed yang diperkirakan telah mengangkat imbal hasil Treasury dan mendukung dolar AS.
Fokus minggu ini akan tertuju pada beberapa indikator ekonomi utama yang akan memberikan wawasan tentang kinerja ekonomi Tiongkok pada penutupan tahun 2024. Angka Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut untuk tahun 2024 akan dirilis pada hari Jumat. Selain itu, data produksi industri Desember, dan angka penjualan ritel juga akan dirilis pada hari Jumat.

