Masih Rp 517 Triliun, Sisa Anggaran Belanja APBN 2024 Akan Dialokasikan untuk Stimulus
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, sisa anggaran belanja APBN 2024 yang belum terserap menjelang akhir tahun mencapai Rp 517 triliun. Demi memaksimalkan penyerapan, pemerintah akan mengalokasikannya antara lain untuk stimulus.
Selain akan memaksimalkan penyerapan belanja pada akhir 2024, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sedang menyiapkan pencapaian target penerimaan negara sebesar Rp 316,69 triliun.
“Operasi kami memang sangat signifikan dalam tiga minggu terakhir,” kata Sri Mulyani saat memberikan penjelasan dalam acara APBN KiTa, dikutip Kamis (12/12/2024).
Menkeu mengungkapkan, belanja negara yang tersisa Rp 517 triliun itu akan dimaksimalkan, salah satunya untuk menstimulus perekonomian yang sifatnya signifikan. Langkah ini ditempuh untuk menjaga momentum pertumbuhan konsumsi masyarakat (rumah tangga). Namun, Sri Mulyani tidak merinci jenis stimulus dimaksud.
Baca Juga
Banggar DPR Sepakat Penggunaan Sisa Anggaran dan Proyeksi Defisit APBN 2024
“APBN masih dalam tren positif, defisit meningkat, tapi masih align dengan postur APBN awal. Realisasi penerimaan dan belanja masih sesuai, meski penerimaan tertekan dan belanja tumbuh tinggi,” ujar dia.
Berdasarkan posturnya, menurut Sri Mulyani, penerimaan negara hingga November 2024 tercatat Rp 2.492,7 triliun, tumbuh 1,3% secara tahunan, atau 89% dari target. “Seharusnya mencapai Rp 2.802,5 triliun,” tutur dia.
Sri Mulyani mengatakan, penerimaan perpajakan sampai akhir November 2024 mencapai Rp 1.946,7 triliun, tumbuh 1,7% secara tahunan, atau 84,3% dari target APBN 2024 sebesar Rp 2.309,9 triliun.
“Penerimaan pajak sendiri Rp 1.688,9 triliun, ini 84,9% dari UU APBN dan tumbuh 1,1% dari tahun lalu,” ucap dia.
Menkeu mengemukakan, penerimaan pabean dan cukai mencapai Rp 257,7 triliun atau 80,3% dari target APBN 2024 yang sebesar Rp 321 triliun. “Ini tumbuh positif 5,2%. Tumbuh baik karena penerimaan bea dan cukai tahun lalu kontraksi,” kata dia.
Di sisi lain, kata Menkeu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat Rp 522,4 triliun, melebihi target pemerintah, yaitu Rp 492 triliun. “Tapi secara tahunan, PNBP ini kontraksi 4% dibanding posisi tahun lalu,” ujar dia.
Baca Juga
Sri Mulyani mengatakan, pemerintah telah membelanjakan Rp 2.894,5 triliun atau 92,8% dari total belanja APBN 2024 yang sebesar Rp 3.325,1 triliun. Belanja pemerintah tumbuh 18,3%, terdiri atas belanja kementerian/lembaga (K/L) Rp 1.049,7 triliun dan non-K/L Rp 1.048,9 triliun.
Untuk transfer ke daerah, pemerintah telah membelanjakan Rp 795,8 triliun atau 92,8% dari APBN yang sebesar Rp 857,6 triliun, tumbuh 8,1% dibanding 2023.
“Posisi APBN, keseimbangan primer positif atau surplus Rp 47,1 triliun. Kalau dalam desain APBN, keseimbangan primer akan defisit Rp 25,5 triliun,” kata dia.
Namun, menurut Sri Mulyani, total postur APBN hingga 30 November 2024 mencatatkan defisit Rp 401,8 triliun. Dibandingkan desain defisit APBN 2024 sebesar Rp 522,8 triliun, postur saat ini masih lebih kecil, yaitu 1,81% terhadap produk domestik bruto (PDB). “Dalam desain APBN kan 2,29% dari PDB,” ujar dia.
