Situasi Global Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Ekonomi RI Diprediksi Tetap Bagus
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, tidak memungkiri bahwa saat ini situasi global sedang tidak baik-baik saja. Meski begitu, dia memandang perekonomian Indonesia tetap bagus di tengah situasi yang tidak menentu.
Airlangga memaparkan, konflik di Timur Tengah masih belum usai. Di tambah lagi dengan adanya kondisi geopolitik di Suriah belakangan ini. Selain itu, Korea Selatan juga dalam kondisi politik yang tidak stabil usai Presiden Yoon Suk Yeol mengumumkan darurat militer secara tiba-tiba.
“Kita ketahui bahwa situasi global tidak baik-baik saja. Kita lihat perubahan global terus terjadi. Baik itu dari situasi perang belum selesai di Timur Tengah. Kemudian kemarin Suriah juga bergejolak. Korea saja juga ada krisis politik dalam negeri,” ujar Airlangga dalam Rakornas Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Rabu (11/12/2024).
Menurut dia, di dalam situasi seperti ini yang masih aman adalah kawasan Indo-Pasifik ataupun ASEAN. Indonesia sendiri adalah ekonomi terbesar di ASEAN dan berada dalam kondisi yang stabil meski banyak konflik bergejolak di dunia.
Baca Juga
Menko Airlangga Sebut Syarat Ini Agar Ekonomi Indonesia Tumbuh 8%
“Kita lihat suku bunga masih tinggi. Bandingkan kita punya inflasi 1,55%, suku bunga masih 7,2%, sepertinya terlalu tinggi. Itu akibat dari kebijakan Amerika yang masih mematok bunga tinggi. Sehingga kita khawatir ada capital flight ke sana. Tetapi tentu dengan suku bunga yang tinggi ini, upaya kita untuk menekani inflasi, ini menjadi margin bagi (fungsi) intermediary perbankan,” jelas dia.
Airlangga menilai, inilah yang harus dijaga ke depan. Pemerintah disebutnya sedang mempertimbangkan potensi pemberian suku bunga yang menarik untuk investasi tertentu, terutama di sektor padat karya, agar para investor ramai masuk ke Indonesia.
“Kalau kita lihat, kita masih mampu tumbuh di atas 5%. Beberapa negara masih di bawah kita, seperti Singapura 4,1%, Arab Saudi masih 2,8%, atau bahkan Meksiko 1,5%. Kita juga ketahui Bapak Presiden mematok angka tinggi, yaitu pertumbuhan 8%, yang diminta kita bisa capai di tahun 2027 atau 2028,” terang Airlangga.
Disampaikan oleh Airlangga bahwa Indonesia sebetulnya pernah mencapai angka pertumbuhan ekonomi hingga 8,2% di tahun 1995. Saat itu, yang menjadi kunci adalah kebijakan konsumsi, investasi, dan ekspor.
“Jadi rumus konsumsi, investasi, dan ekspor ini sepertinya berulang. Kalau yang lalu mengandalkan CPO, tekstil, dan migas, kalau sekarang tentu kita menambah dengan hilirisasi, ekonomi digital, dan yang kita juga harus bentuk adalah semikonduktor,” jelas dia.

