Ciptakan Kebijakan yang Jelas Tingkatkan Produktivitas, Pulihkan Ekonomi
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior
Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID – Setelah beberapa tahun yang penuh gejolak, perekonomian global akhirnya tampak relatif berada dalam mode pemulihan. Namun, di balik penurunan inflasi dan momentum pertumbuhan secara keseluruhan, terdapat banyak inkonsistensi, kelemahan, dan ketegangan, yang tercermin pada menurunnya kepercayaan sektor swasta.
Laporan terbaru dari Brookings-Financial Times Tracking Indexes for the Global Economic Recovery (TIGER) menunjukkan, meski pertumbuhan global mendapatkan momentum, pertumbuhan tersebut masih lemah, terputus-putus, dan sebagian besar didorong oleh kinerja kuat yang berkelanjutan dari satu negara saja: Amerika Serikat.
Faktanya, meski beberapa negara – terutama Amerika Serikat dan India – beroperasi dengan kecepatan tinggi, sebagian besar negara-negara maju dan negara-negara berkembang, termasuk Tiongkok, mengalami perlambatan pertumbuhan. Lajunya terhambat oleh meningkatnya beban utang dan pengambilan kebijakan yang ironisnya tidak bijaksana.
Dengan prospek perekonomian global yang masih tidak jelas, ketidakpastian politik yang melanda banyak negara, dan ketegangan geopolitik yang semakin tinggi, rendahnya kepercayaan dunia usaha dan konsumen mungkin bukan hal yang mengejutkan. Namun, ada kesenjangan yang mencolok antara lemahnya kepercayaan sektor swasta dengan kondisi keuangan (yang telah membaik) dengan kinerja pasar saham (yang banyak relatif kuat, bahkan di beberapa negara dengan prospek pertumbuhan yang buruk).
Baca Juga
Asing Jual Neto Rp 7,50 Triliun Sepekan, Bunga SRBI Naik Tembus 7% Lebih
Meski begitu, bisa disimpulkan, kepercayaan konsumen telah memburuk. Ada indikasi ketidakpuasan umum terhadap kondisi perekonomian AS, sebuah sentimen yang memainkan peran penting dalam pemilihan presiden. Terdapat juga risiko-risiko besar yang akan terjadi, khususnya meningkatnya utang publik Amerika – yang akan diperburuk oleh agenda kebijakan presiden baru yang dapat mengancam stabilitas makroekonomi.
Potong Pajak untuk Pulihkan Tiongkok
Negara-negara maju lainnya bahkan mengalami masa lebih sulit. Meski beberapa negara di Eropa Selatan, seperti Spanyol dan Yunani, telah berhasil bangkit, perekonomian inti Zona Euro masih mengalami kelesuan.
Jerman terkendala oleh biaya energi yang tinggi, infrastruktur industri yang buruk, produktivitas yang stagnan, dan meningkatnya persaingan ekspor dari Tiongkok. Sementara, Prancis menghadapi masalah fiskal yang parah yang menandakan ketidakstabilan ekonomi dan politik lebih lanjut.
Di tengah lesunya pertumbuhan dan menurunnya inflasi, Bank Sentral Eropa tidak punya pilihan selain terus menurunkan suku bunga. Padahal, inflasi jasa dan pertumbuhan upah masih tetap tinggi.
Di sisi lain, Inggris tampaknya telah memperoleh daya tarik perekonomian, salah satunya berkat pelonggaran moneter. Namun, investasi dunia usaha terus menurun, pertumbuhan produktivitas masih lesu, dan risiko fiskal masih besar.
Sedangkan di Jepang, bank sentralnya telah putus asa terhadap mata uangnya. Bank of Japan menaikkan suku bunga untuk menopang yen dan membendung kenaikan inflasi, namun hal ini tidak akan banyak mendorong konsumsi rumah tangga.
Bahkan Tiongkok – yang selama ini merupakan mesin pertumbuhan utama perekonomian global – sedang mengalami kesulitan. Yang pasti, putaran baru stimulus moneter dan fiskal, bersama dengan langkah-langkah untuk meningkatkan harga properti dan memperkuat neraca bank komersial, diharapkan akan memberikan dorongan pada pasar real estate dan ekuitas.
Namun, kebijakan-kebijakan yang telah diumumkan sejauh ini kemungkinan besar tidak akan cukup untuk mengatasi tekanan deflasi yang timbul dari lemahnya permintaan domestik. Kepercayaan sektor swasta terpuruk dalam beberapa tahun terakhir – sebagian besar disebabkan oleh kurangnya kejelasan arah kebijakan dari pemerintah – dan hal ini telah melemahkan konsumsi rumah tangga dan investasi dunia usaha.
Untuk mengembalikan perekonomiannya ke jalur yang benar, Tiongkok harus menerapkan serangkaian kebijakan fiskal baru yang tepat sasaran, termasuk dukungan pendapatan bagi rumah tangga, pemotongan pajak, dan restrukturisasi hubungan fiskal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pada saat yang sama, pemerintah harus melakukan reformasi struktural yang lebih mendalam, yang bertujuan untuk menghidupkan kembali pertumbuhan produktivitas dan memulihkan kepercayaan dunia usaha, dan ini bukan hal yang mudah.
Baca Juga
India Siap Susul Tiongkok Menuju Negara Maju, Kapan Indonesia?
India Titik Terang
India, saat ini, muncul sebagai titik terang dalam perekonomian global. Berkat investasi infrastruktur yang kuat dan pesatnya ekspansi sektor manufaktur dan jasa yang bernilai tambah tinggi, pertumbuhan menjadi kuat.
Peningkatan belanja konsumen dan neraca perbankan yang sehat telah mengatasi hambatan yang timbul dari masih tingginya inflasi dan lemahnya kinerja sektor pertanian. Sementara, kebijakan moneter dan fiskal yang hati-hati telah memperkuat pasar keuangan.
Selain itu, India akan memperoleh manfaat dari dua tren global. Pertama, penurunan suku bunga global dapat merangsang aliran modal ke negara tersebut. Kedua, dorongan dari banyak negara besar untuk mengalihkan rantai pasokan dari Tiongkok dapat menyebabkan peningkatan investasi dan ekspor dari India.
Indonesia juga terbukti memiliki kinerja yang stabil, sebagian berkat kerangka kebijakan yang kuat yang menarik bagi investor asing. Terutama, faktor terpilihnya Presiden baru Prabowo Subianto yang dianggap pasar mampu memimpin Indonesia lebih aman, sejahtera, dan berkeadilan.
Ini khususnya jika tidak ada kegaduhan politik yang signifikan. Dan, kalau Presiden Prabowo mampu merangkul tokoh nasionalis Megawati Soekarnoputri, maka prospek Indonesia ke depan semakin cerah.
Di Amerika Latin, memang, Brasil dan Meksiko tampaknya berada dalam jalur pertumbuhan yang sehat. Namun, banyak negara lain bergulat dengan defisit anggaran yang besar, beban utang yang tidak berkelanjutan, ketidakstabilan nilai tukar, dan menurunnya permintaan dari Tiongkok, salah satu pasar ekspor utama di kawasan ini. Sementara itu, meskipun ekonomi dan pasar keuangan Rusia cukup mampu menahan sanksi Barat, perang melawan Ukraina akan mengurangi potensi pertumbuhan jangka panjang negara komunis tersebut.
Kita berharap, ketenangan relatif yang terjadi dalam perekonomian global memberikan peluang bagi para pembuat kebijakan di seluruh dunia untuk mengatasi masalah-masalah mendasar yang menghambat pertumbuhan. Hal ini berarti mengendalikan keuangan publik, menumbuhkan kepercayaan rumah tangga dan dunia usaha, serta merancang kerangka kebijakan yang jelas untuk meningkatkan pertumbuhan produktivitas. Langkah-langkah konkret untuk meningkatkan fungsi tenaga kerja, produksi, dan pasar keuangan sangat penting!
Banyuwangi, 2024

