Pemerintah Harus Ciptakan Kebijakan yang Ramah terhadap Relokasi Investasi China
JAKARTA, investortrust.id – Sikap Proteksionisme Amerika Serikat di bawah Trump, terutama terhadap China harus diantisipasi Indonesia. Pemerintah perlu mendesain kebijakan yang ramah terhadap relokasi investasi dari Negeri Tirai Bambu itu. Ini merupakan salah strategi untuk mengatasi perlambatan di sektor manufaktur.
Staf Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Raden Pardede mengatakan PMI Manufaktur yang masih berada di bawah level 50,0 pada November 2024, merupakan gejala dari dampak perdagangan dunia. Raden mengkhawatirkan kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih Donald Trump ke depan akan memperburuk situasi.
“Yang paling kita khawatirkan sebetulnya adalah dampak kebijakan dari Presiden Trump, yang menaikkan tarif (impor) sangat tinggi. Di mana rerata tarif itu 20%, khusus China 60%-100%” kata Raden usai menghadiri Sarasehan 100 Ekonom, di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (3/12/2024).
Raden menjelaskan melihat dampaknya, China akan mencari pasar baru. Tetapi, pemerintah Indonesia bisa melihat kondisi ini sebagai peluang untuk menarik pabrik perusahaan China dan Taiwan ke Indonesia.
“Jadi mestinya dalam situasi yang seperti ini, kita tidak bisa apa-apa dengan (kebijakan) Trump,” ucap dia.
Raden menjelaskan pemerintah mungkin akan melakukan perubahan kebijakan. Artinya, dengan peluang yang ada, pemerintah bisa membuat aturan mengenai investasi yang lebih menarik bagi investor asal China dan negara yang terdampak regulasi Trump.
Baca Juga
Wow, 15 Investor Tekstil Asing akan Relokasi dari Cina ke Indonesia
“BKPM harus berusaha memanfaatkan ini,” kata dia.
Selain aturan investasi, Raden menyarankan perbaikan pada sektor industri padat karya nasional. “Kita masih punya peluang dibanding dengan China dan Taiwan, itu yang harus dimanfaatkan,” ujar dia.
Salah satu perbaikan lainnya, jelas Raden, yaitu memperbaiki skor Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia. Saat ini, rata-rata ICOR Indonesia berada pada angka 6,4% dan ditargetkan turun pada kisaran 4,5%.
“Kalau ini kita tidak turunkan, maka kebutuhan kapital itu menjadi sangat besar dan rasanya tidak mungkin dicapai dengan penambahan kapital 8%-9% dari PDB atau artinya investment to GDP kita mencapai 42% hingga 43%, dari sekarang sekitar 31%,” ujar dia.
Wakil Menteri Perdagangan Faisol Riza mengatakan rencana pemindahan pabrik sejumlah perusahaan asal China ke Asia Tenggara. Meski demikian, dia menyatakan perlunya kesiapan menghadapi masuknya investasi asing ke Indonesia.
“Kita belum betul-betul siap dengan seluruh serbuan investasi. Jika ini terjadi, perlu perbaikan regulasi secepat mungkin,” kata Faisol.
Berdasarkan catatan S&P Global Market, PMI Manufaktur Indonesia pada November 2024 berada pada level 49,6, naik 0,4 poin dari Oktober 2024 yang sebesar 49,2. Kondisi ini mengindikasikan kondisi operasional sedikit melambat pada periode ini.
Direktur S&P Global Market Intelligence Paul Smith menyatakan terdapat peningkatan output produksi dari perusahaan di Indonesia. “Namun yang kurang menggembirakan adalah kinerja penjualan terus melemah, turun selama lima bulan berturut-turut hingga November 2024,” kata Paul, dalam keterangan resminya.

