Genjot Target Visi Indonesia Emas, Pemerintah Targetkan Wisman Belanja Rata-rata US$ 1.600 pada 2029
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti menempatkan pariwisata sebagai satu dari lima strategi peningkatan pertumbuhan ekonomi untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2045.
“Indonesia kaya dengan potensi alamnya dan potensi wisatanya. Tapi, kita masih kalah secara jumlah wisatawan mancanegara (wisman) dibanding Thailand, Malaysia, dan Singapura,” kata Amalia, saat seminar nasional Proyeksi Ekonomi Indonesia 2025, di Jakarta, Kamis (21/11/2024).
Berdasarkan data paparan, devisa dari sektor pariwisata Indonesia tertinggal dari Thailand. Negara Gajah Putih itu mampu mengeruk devisa sebesar US$ 64,3 miliar. Sementara itu, Indonesia hanya mampu mendapat US$ 16,9 miliar.
“Average spending index per arrival ke Australia US$ 5.100, Thailand US$ 1.610, Singapura US$ 1.060. Dan Indonesia masih di bawah US$ 1.050,” ujar dia.
Untuk itu, Amalia berharap pada 2029, kontribusi pariwisata bisa menghasilkan devisa nasional menjadi US$ 32-29 miliar. Perhitungan ini mengandaikan pengeluaran wisman di Tanah Air secara rata-rata sebesar US$ 1.600.
Baca Juga
Kunjungan Wisatawan ke Bali Terus Meningkat, Industri Properti di Pulau Dewata Ikut Terdongkrak
“Sementara itu, kontribusi sektor pariwisata ke PDB bisa menjadi 5% dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata dia.
Untuk menggali potensi ini, Amalia menyebut pemerintah akan mengembangkan 10 destinasi pariwisata prioritas dan 3 destinasi wisata regeneratif dalam lima tahun ke depan.
Sebanyak 10 destinasi pariwisata prioritas yang ingin dikembangkan antara lain Danau Toba, Bangka Belitung, Borobudur, Bromo Tengger Semeru, Manado-Likupang, Morotai, Raja Ampat, Labuan Bajo, dan Lombok-Gili Tramena. Adapun tiga destinasi wisata regeneratif yang digagas yaitu Jakarta, Kepulauan Riau, dan Bali.
“Destinasi prioritas ini dikenal sebagai 10 Bali baru ini melanjutkan periode sebelumnya karena 10 destinasi pariwisata prioritas ini sudah ada kami selesaikan integrated tourism master plan,” kata dia.
Sementara tiga destinasi wisata regeneratif, ujar Amalia, dikembangkan karena menjadi sasaran besar wisman dan wisatawan nusantara. “Harus kita tata ulang supaya lebih optimal,” ujar dia.

