Kebijakan The Fed Bikin Rupiah 'Pecundangi' Dolar Jelang Akhir Pekan
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah berhasil 'pecundangi' dolar Amerika Serikat (AS) dalam penutupan perdagangan jelang akhir pekan, Jumat (8/11/2024), usai rentetan tren melemah yang dialami oleh mata uang Garuda. Jisdor Bank Indonesia (BI) merilis kurs rupiah menguat tajam 96 poin ke level Rp 15.671/USD yang sebelumnya berada di posisi Rp 15.767/USD.
Sementara di perdagangan pasar spot valas, dilansir Yahoo Finance kurs rupiah bergerak menguat 64 poin (0.41%) ke level Rp 15.665/USD hingga pukul 16.45 WIB. Diketahui pada perdagangan sebelumnya kurs rupiah ditutup pada level Rp 15.729/USD.
Menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, pergerakan kurs rupiah yang menguat terhadap dolar tidak lepas dari kebijakan yang dibuat oleh Bank Sentral AS, Federal Reserve alias The Fed. Pada hari Kamis (7/11/2024) waktu setempat, the Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin seperti yang diharapkan.
Baca Juga
Donald Trump Menang Pilpres AS, Sri Mulyani Ungkap Nasib Rupiah
"Ketua The Fed Jerome Powell mengindikasikan bahwa ekonomi AS tetap tangguh, dan bahwa Fed akan melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut, meskipun dengan hati-hati, di tengah kemajuan dalam menurunkan inflasi," tulis Ibrahim dalam keterangan tertulis, Jumat (8/11/2024).
Selera risiko juga tetap optimis setelah Donald Trump memenangkan pemilihan presiden 2024 awal minggu ini. Meskipun implikasi dari kepresidenan Trump untuk Asia masih berpotensi negatif, mengingat rencananya untuk memberlakukan kebijakan perdagangan yang lebih proteksionis.
Fokus utama tertuju pada pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, yang akan berakhir pada hari Jumat. NPC secara luas diharapkan menguraikan rencana untuk lebih banyak pengeluaran fiskal. Analis memperkirakan setidaknya 10 triliun yuan ($1,6 triliun) dalam pengeluaran tambahan selama beberapa tahun mendatang, karena Beijing berjuang untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang melambat.
"Selain itu, kepresidenan Trump kedua juga diharapkan akan membuat Beijing mengeluarkan lebih banyak stimulus, karena Trump telah berjanji untuk mengenakan tarif 60% pada semua impor China, yang menandakan lebih banyak hambatan ekonomi bagi China," ujar Ibrahim.
