Ini Alasan Sri Mulyani Tarik Utang, Meski APBN Surplus
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan APBN hingga 15 Maret 2024 mengalami surplus sebesar Rp 22,8 triliun. Meski mengalami surplus, Sri Mulyani memutuskan tetap menerbitkan surat utang.
“Kenapa dalam situasi surplus kita sudah melakukan issuance (obligasi)? Karena (itu) memang strategi issuance kita dalam satu tahun,” kata Sri Mulyani saat paparan di hadapan Komisi XI DPR, dipantau daring, Selasa (19/3/2024).
Sri Mulyani mengatakan penerbitan utang itu dilakukan dengan strategi oportunistik dan pragmatis. Dia mengatakan pemerintah melihat kondisi pasar dengan narasi APBN yang stabil dan kredibel. “Ini membuat kita mampu mendapatkan Surat Berharga Negara (SBN) dengan yield yang relatif kompetitif,” kata dia. Di tengah likuiditas yang ketat saat ini pun masih terjadi arus dana masuk dari non-resident ke SBN.
Disampaikan Menkeu, inflow ke SBN terlihat tinggi pada 2023, dan berikutnya mengalami reverse dengan kecenderungan outflow pada SBN di tahun 2024 ini.
“Sedangkan untuk saham masih mengalami positif inflow,” kata dia.
Baca Juga
Jelang Pengumuman RDG BI, Kurs Rupiah Ditutup Melemah Hari ini
Berdasarkan paparannya, pasar keuangan domestik 2024 mengalami net inflow Rp 2,77 triliun dan outflow sebesar Rp 23,3 triliun. Net inflow pada Maret 2024 ini lebih rendah dibanding periode yang sama setahun sebelumnya yang mencapai Rp 62,96 triliun.
“Namun yield kita relatif stabil. Ini menunjukkan kita cukup mampu menciptakan stabilitas dari yield SBN,” ujar dia.
Sri Mulyani mengatakan stabilnya kondisi imbal hasil (yield) SBN juga terjadi karena pemerintah melakukan deepening, seperti menerbitkan lebih banyak obligasi retail. “Juga kerja sama dengan Bank Indonesia (BI) untuk berbagai langkah stabilisasi SBN,” kata dia.
Dibanding US treasury 10-year, yield SBN Indonesia relatif terjaga baik. Sri Mulyani mencontohkan Brasil yang SBN local currency-nya harus dibayar pemerintah dengan angka di atas 10% dari yield US Treasury. “Nigeria atau Turki bahkan sudah di atas 18% dari nilai US$. Jadi dengan suku bunga di bawah 7%, ini jauh lebih baik dari emerging yang mengalami tekanan,” ujar dia.
Sri Mulyani mengatakan pasar keuangan domestik mengalami beberapa kali koreksi karena tekanan global. Nilai tukar rupiah tercatat mengalami depresiasi sebesar 2,59% sepanjang 2023, dan Kembali mengalami depresiasi sebesar 1,08% year to date (ytd).
“Ini masih jauh lebih kecil dibanding depresiasi negara-negara lain yang koreksinya di atas 2% seperti Malaysia, Brasil, Korea Selatan, bahkan Thailand, Argentina, Jepang, dan Turki,” kata dia.

