Marak PHK Industri TPT, Wamen Perindustrian Godok Insentif Usaha
JAKARTA, investortrust.id - Sektor manufaktur, khususnya industri tekstil dan produk tekstil (TPT) belakangan menghadapi masalah maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK). Sejumlah persoalan membelit mulai dari perusahaan tidak lagi berkembang hingga harus melakukan efiensi keuangan.
"Kami akan segera mengambil kebijakan strategis untuk membuat industri TPT tersebut kembali bertumbuh. Dengan demikian, tidak melakukan PHK terhadap karyawannya," kata Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza di Kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2024).
Baca Juga
Bank Indonesia Tahan BI Rate 6%, FFR Potensi Dipangkas 50 Bps Lagi
Selain itu, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga menyoroti bagaimana Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia mengalami kontraksi belakangan ini. Hal menjadi perhatian pihaknya.
"Kita prihatin betul karena terutama tekstil kita mendapat tekanan. Insya Allah dalam waktu dekat, Kemenperin akan mengambil sikap untuk industri tekstil," ucap Faisol.
Oleh sebab itu, Faisol Riza menyebut diperlukan sejumlah intensif untuk para pelaku usaha industri tekstil dan produk tekstil. Ini mulai dari insentif biaya logistik, hingga biaya bahan baku.
"Ada banyak, biaya tinggi produksi itu kan harus ditekan, bukan hanya insentif. Bagaimana mencoba menurunkan biaya logsitik juga membantu, supaya bahan baku enggak semahal sekarang," tandasnya.
11.000 PHK
Sebelumnya, Kemenperin mengungkapkan ada sebanyak 11.000 karyawan dari perusahaan tekstil dan produk tekstil yang terkena pemutusan hubungan kerja. Berdasarkan data yang dipaparkan, belasan ribu orang itu berasal dari 6 perusahaan.
Plt Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Reni Yanita mengungkapkan, PT Dupantex di Jawa Tengah melakukan PHK sebanyak 700-an orang. PT Alenatex di Jawa Barat melakukan PHK 700-an karyawan, dan PT Kusumahadi Santosa di Jawa Tengah melakukan PHK 500-an orang.
"Ada pula PT Kusumaputra Santosa di Jawa Tengah melakukan PHK 400-an orang dan PT Pamor Spinning Mills di Jawa Tengah PHK 700-an orang. Yang terbesar terjadi di PT Sai Apparel di Jawa Tengah yang terpaksa PHK sebanyak 8.000-an orang," paparnya.
Baca Juga
IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi, Kurs Rupiah Melemah Rabu Pagi

