Ekonomi AS Sedang Menikmati Soft Landing
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior
Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Pandemi Covid-19 menciptakan tantangan jangka pendek dan menengah bagi kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Tantangan terbesarnya adalah mempertahankan pendapatan konsumen di tengah lockdown, gangguan rantai pasokan, dan pergeseran pasokan agregat (aggregate supply). Hal ini berarti mempertahankan keseimbangan ekonomi antara menghindari depresi, dan tidak membebani perekonomian dengan likuiditas yang terlalu besar sehingga dapat meningkatkan inflasi.
Tantangan jangka menengah berkaitan dengan pergeseran struktural yang lebih luas akibat krisis dari pembelian jasa – terutama layanan tatap muka – ke pembelian barang tahan lama. Di puncak pandemi, terjadi pembelajaran masyarakat selama beberapa dekade tentang pemanfaatan e-commerce dan internet hanya dalam dua tahun.
Salah satu kesimpulannya adalah melakukan lebih banyak aktivitas makan di rumah lebih nyaman, dan lebih masuk akal. Saat ini, belanja barang tahan lama secara riil adalah 38% lebih tinggi dibandingkan pada akhir bulan Maret 2018, sementara belanja jasa hanya 15% lebih tinggi, atau terjadi selisih pertumbuhan relatif sebesar 23 poin persentase.
Tantangan jangka menengahnya adalah menciptakan insentif pasar untuk mendorong pekerja dan perusahaan merespons perubahan struktural besar dalam permintaan itu. Karena, baik upah nominal maupun harga tidak akan turun kembali ke tingkat sebelumnya (dalam istilah ekonomi keduanya bersifat 'sticky).
Pemotongan upah dan harga secara signifikan di industri-industri sektor jasa yang menyusut bukanlah sebuah langkah awal. Sebaliknya, menciptakan lebih banyak pasokan di wilayah yang permintaannya meningkat memerlukan inflasi upah dan harga di sektor-sektor yang baru berkembang.
Baca Juga
Utang Luar Negeri Indonesia Naik 7,3% dan Lelang SRBI Raup Rp 18 Triliun, Kurs Rupiah Tetap
Oleh karena itu, pengelolaan perekonomian akibat pandemi Covid-19 memerlukan dukungan pendapatan yang sangat besar – namun tidak terlalu besar –, serta lonjakan harga yang cukup untuk membantu perekonomian menyesuaikan diri dengan konfigurasi pekerjaan dan sektoral yang baru. Dengan kata lain, Amerika Serikat memerlukan sejumlah inflasi, namun tidak terlalu besar sehingga menimbulkan ekspektasi bahwa ledakan inflasi akan terus berlanjut.
Top of Form
Bottom of Form
Lalu, di mana posisi ekonomi AS hari ini? Pada 4 Oktober, kami mengetahui perkiraan jumlah pekerja bergaji (payroll employment) pada bulan September 254.000 lebih tinggi dibandingkan pada Agustus. Selain itu, angka pada bulan Agustus direvisi naik sebesar 72.000, yang berarti terdapat 326.000 lebih banyak pekerja dibandingkan laporan ketenagakerjaan sebelumnya. Sementara setelah naik dari 3,8% tahun lalu menjadi 4,3% pada bulan Juli, tingkat pengangguran kembali turun menjadi 4,1%.
Pertumbuhan Pendapatan Melampaui Perkiraan
Ya, itu hanyalah satu titik data, tapi ini adalah hal yang luar biasa. Selain itu, fakta menunjukkan bahwa, setelah adanya revisi data, pertumbuhan pendapatan akibat pandemi jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Pendapatan riil (yang disesuaikan dengan inflasi) pada kuartal kedua tahun 2024 telah direvisi naik sebesar 3,6%, dan perkiraan tingkat produksi riil – yang menurut definisi seharusnya sama dengan pendapatan riil, kecuali “kesenjangan statistic (statistical discrepancy)” yang mengganggu – direvisi naik sebesar 1,3%. Artinya, perkiraan pertumbuhan produktivitas sejak awal tahun 2020 akan direvisi naik sekitar 0,3% per tahun, sedangkan biaya tenaga kerja riil akan direvisi turun dengan jumlah yang sama.
Setelah Federal Reserve AS memulai siklus pengetatan cepatnya pada musim semi tahun 2022, sejumlah besar ekonom khawatir bahwa kebijakan tersebut akan bertindak terlalu jauh dan membawa perekonomian AS ke dalam resesi yang tidak perlu dan dapat dihindari. Bagaimanapun, indikator ekspektasi inflasi berbasis pasar dengan kuat menunjukkan bahwa inflasi pascapandemi bersifat sementara. Namun, resesi tidak terjadi.
Apakah perekonomian AS tetap kuat karena dampak kebijakan fiskal ekspansif ternyata lebih kuat dari perkiraan? Atau apakah ini karena tingkat suku bunga “netral” telah meningkat secara signifikan selama setengah dekade terakhir, yang menyiratkan bahwa kebijakan moneter The Fed jauh lebih tidak ketat dan kontraktif dibandingkan yang dengan perkiraan semula?
Baca Juga
Mampukah Kamala Harris Kalahkan Trump dalam Pilpres AS 2024? Simak Hasil Jajak Pendapat Terbaru
Perekonomian pascapandemi ternyata tidak kekurangan banyak hal positif. Pertanyaannya adalah apakah ada awan gelap yang tampak di cakrawala.
Salah satu risiko yang jelas adalah ledakan Artificial Intelligence (AI)yang sedang berlangsung akan menjadi sebuah gelembung ekonomi di pasar keuangan, yang menjalar ke sektor riil. Meskipun ada banyak kasus penggunaan teknologi AI yang menjanjikan, masih belum jelas bagaimana hal ini akan menghasilkan peningkatan keuntungan bisnis.
Peramalan makroekonomi sering kali menguntungkan mereka yang pesimistis. Bahkan, jika tidak terjadi bencana, tantangan baru hampir selalu muncul di tempat yang tidak kita duga.
Namun demikian, untuk saat ini, kita semua harus menikmati soft landing yang telah dicapai perekonomian AS. Pemulihan dari pandemi ini sungguh luar biasa, yang patut kita rayakan bersama.
Banyuwangi, 10 Oktober 2024

