AS Kesulitan Melakukan Soft Landing, Apa Dampaknya?
Oleh Tri Winarno,
mantan ekonom senior
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Banyak ekonom dan komentator yang melontarkan pujian dan memuji Federal Reserve Amerika Serikat karena telah mengarahkan perekonomian menuju soft landing. Hanya ada satu masalah: pesawatnya belum mendarat.
Seperti apa soft landing-nya? Inflasi akan tetap pada atau cukup dekat dengan target The Fed sebesar 2%, untuk jangka waktu yang berkelanjutan. Sementara lapangan kerja dan output perekonomian akan meningkat pada tingkat yang cukup rendah untuk tidak memberikan tekanan pada harga, namun juga cukup tinggi untuk menghindari resesi.
Benar, perekonomian AS telah melambat secara signifikan, dan dengan kesulitan ekonomi yang jauh lebih sedikit, dibandingkan yang dikhawatirkan oleh banyak orang – termasuk saya – akan terjadi. Pada tahun 2021, perekonomian Negeri Paman Sam itu menambah rata-rata 604.000 pekerjaan setiap bulannya. Pada tahun 2023, rata-rata perolehan pekerjaan bulanan bersih turun menjadi 251.000. Demikian pula, inflasi indeks harga konsumen telah menurun secara signifikan.
Dengan menggunakan ukuran pilihan The Fed – indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures price index/PCE) – inflasi tahunan AS mencapai puncaknya pada 7,1% pada bulan Juni 2022, dan turun menjadi 2,4% pada bulan Januari 2024. Selama periode tersebut, tingkat pengangguran tidak pernah melampaui 4%.
Masih Jauh dari Soft Landing
Meski ada kemajuan yang mengesankan, perekonomian negara adidaya itu masih jauh dari soft landing. Pasar tenaga kerja sedang berada pada kondisi yang sangat panas dan tidak berkelanjutan.
Pada bulan Februari 2024, pemberi kerja di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu menambah 275.000 pekerjaan – sekitar tiga kali lipat dari perkiraan selama soft landing. Pada kuartal pertama tahun 2024, produk domestik bruto (PDB) diperkirakan akan tumbuh dengan kecepatan yang, jika dipertahankan, akan menambah tekanan inflasi. Dan jika diukur dengan indeks harga PCE inti, inflasi bulanan di bulan Januari lalu lebih tinggi dibandingkan bulan mana pun sejak Januari 2023.
Di luar perkembangan data bulanan tersebut , ada alasan lain yang perlu dikhawatirkan bahwa kecenderungan perkembangan ekonomi AS bisa semakin akselerasi. Jika hal ini terjadi, inflasi dapat tertahan pada tingkat yang tidak sesuai dengan target The Fed, sehingga mengurangi – bahkan mungkin nol – frekuensi penurunan suku bunga The Fed pada tahun ini.
Ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS pada tahun 2024 membaik, dibandingkan tahun lalu, sebagai respons terhadap keputusan The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga. Kondisi pasar keuangan AS yang semakin longgar pada kuartal keempat tahun 2023 dan lebih longgar dibandingkan tahun lalu dapat menyebabkan perekonomian akan semakin panas.
Laju penyerapan lapangan kerja bulanan tidak melambat pada tahun lalu. Faktanya, penyerapan lapangan kerja masih menunjukkan tren yang lebih tinggi pada kuartal keempat tahun 2023 dan memasuki bulan Februari 2024, sementara pertumbuhan upah telah berada di sekitar 4,5% selama setahun terakhir – jauh di atas tingkat yang konsisten dengan target inflasi harga The Fed.
Prospek Perekonomian AS Suram
Namun demikian, prospek perekonomian AS ke depan sangat suram, dengan serangkaian indikator yang berbeda-beda yang memberikan cerita yang berbeda pula. Beberapa tanda menunjukkan bahwa perekonomian berada di ambang pelemahan, bukannya semakin panas. Dan indikator-indikator tersebut juga menunjukkan bahwa hard landing – resesi – lebih mungkin terjadi dibandingkan soft landing.
Misalnya, pesanan baru barang modal telah melambat, yang menunjukkan suramnya prospek investasi bisnis dan pertumbuhan PDB secara keseluruhan. Selain itu, faktor-faktor lain meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek belanja konsumen.
Pada bulan Januari 2024, penjualan ritel turun tajam, turun 0,8% dibandingkan bulan sebelumnya, sementara para peramal memperkirakan hanya turun 0,1%. Tunggakan kartu kredit telah meningkat di semua kelompok umur sejak awal tahun 2022, dan baru-baru ini melampaui tingkat sebelum pandemi.
Yang paling penting, sentimen konsumen masih berada dalam wilayah resesi, kemungkinan besar disebabkan oleh tingginya tingkat harga dan tingginya suku bunga. Sentimen penting, karena resesi pada akhirnya disebabkan oleh hilangnya kepercayaan terhadap masa depan.
Konsumen yang khawatir dengan keuangan jangka pendek membatasi pengeluaran mereka. Psikologi resesi mulai terjadi, yang menyebabkan dunia usaha membatalkan lowongan kerja dan memberhentikan pekerja, yang pada gilirannya semakin mengurangi permintaan.
Soft landing – inflasi yang bertahan lama sesuai target The Fed dan lapangan kerja serta PDB yang tumbuh pada kecepatan yang berkelanjutan – kecil kemungkinannya dibandingkan dengan perekonomian yang mengalami percepatan kembali atau kontraksi ringan. Dan jika pola pikir resesi terus berlanjut, perekonomian mungkin akan berkontraksi dengan cepat, karena tidak ada dunia usaha yang mau menjadi pihak terakhir yang mengambil sikap konservatif dalam hal pengeluaran dan penyerapan jumlah pegawai. Ketika tingkat pengangguran meningkat sebesar setengah persen dalam waktu satu tahun, maka tingkat pengangguran akan terus naik ke wilayah resesi.
Bukan Mustahil
Di sisi lain, tentu saja soft landing bukan hal yang mustahil. Argumen yang paling kuat mengenai hal ini adalah bahwa ketatnya pasar tenaga kerja sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya jumlah lowongan kerja, bukan karena banyaknya lapangan kerja. Lowongan pekerjaan pada bulan Maret 2022 meningkat sebesar 75% dibandingkan bulan Februari 2020, namun saat ini angka tersebut kurang dari sepertiga dibandingkan dengan tingkat sebelum pandemi. Jika suku bunga tinggi dapat menurunkan lapangan kerja tanpa menghilangkan lowongan kerja, maka The Fed mungkin akan mampu melakukan soft landing.
The Fed harus melihat ke dalam situasi yang suram dan menilai ke arah mana perekonomian akan bergerak. Pada saat artikel ini ditulis, investor di pasar obligasi memperkirakan penurunan suku bunga pertama akan terjadi pada bulanJuni ini. Dengan tingkat suku bunga kebijakan The Fed jauh di atas apa yang disebut 'suku bunga netral', maka perkiraan tersebut masuk akal. Namun jika perekonomian pada musim semi ini sama kuatnya dengan awal tahun 2024, keseimbangan risiko akan menjauh dari penurunan suku bunga.
Mencermati perkembangan terkini perekonomian AS tersebut, ekonomi global akan semakin suram jika AS tidak mampu melakukan soft-landing. Dan, negara emerging markets seperti Indonesia akan mengalami kesulitan ekonomi yang semakin dalam, karena terutama akan terjadi aliran modal ke luar dari pasar emerging markets, yang berakibat pada tekanan terhadap neraca pembayaran dan nilai tukar mata uang. Karena itu, pada saat ini, dituntut kehati-hatian yang besar dalam pengelolaan ekonomi nasional.
Banyuwangi, 6 Juni 2024

